Tampilkan postingan dengan label FILM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Mei 2020

"KENANGAN NONTO FILM LAYAR TANCEP" By Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42: Seni Budaya Nusantara
Senin, 04 Mei 2020 - 09.42 WIB


KENANGAN NONTON FILM LAYAR TANCEP
By Ki Slamet 42

Ketika saya masih kanak-kanak kelas enam, sekolah di SD Gotong Royong di Kampung Pisangan Baru daerah Jatinegara, Jakarta Timur tahun 1970, saya suka sekali menonton film cowboy. Ketika itu film yang saya tonton tidak bersuara alias bisu, meskipun begitu saya dan teman-teman sekampung sangat menyukainya karena pada saat itu film layar lebar memang belum seperti sekarang. 

Bagi saya pada waktu itu, film yang bagus adalah film yang ceritanya banyak menampilkan adegan tembak-menembak antara jagoan dan para bandit, ada nona(non) yang diculik para bandit kemudian datanglah sang jagoan menolong si Non. Terjadilah perkelahian, kejar-kejaran di atas kuda. Sang jagoan kemudian mengacungkan pitolnya diarahkan ke para bandit, lalu sang jagoan menembakkan pistolnya ke arah lawan. Ada adegan “duel”, perkelahian satu lawan satu baik dengan tangan kosong maupun adu kecepatan menembak dengan pistol. Sedangkan film-film Indonesia yang paling saya suka pada saat itu di antaranya adalah Nyai Dasima, Tuan Tanah edawung, Pejuang, dll.

Pada setiap ada hajatan di kampung dengan menanggap film, saya dan teman-teman tak pernah absen untuk menonton dengan berselimutkan sarung (krebongan) untuk melindungi tubuh dari udara dingin, dan tak lupa juga membawa serta tikar pandan, tikar yang terbuat dari daun pandan. Meskipun dengan resiko akan kena marah dari orang tua serta dipukul dengan rotan oleh orang tua yang terasa pedih di pantat karena pergi nonton tak pernah bilang dan pulangnya menjelang Subuh.

demikianlah secuil cerita kenangan masa kanak-kanak saya ketika menonton film layar tancep di era tahun enampuluhan hinggalah sampai tahun tujuhpuluhan dengan segala romantikanya.

~KSP42~
Senin, 04 Mei 2020 – 08.12 WIB
Kp. Pangarakan, Lido - Bogor

"KENANGAN NON FILM LAYAR TANCEP" By Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42: Seni Budaya Nusantara
Senin, 04 Mei 2020 - 09.16 WIB

KENANGAN NONTON FILM LAYAR TANCEP
By Ki Slamet 42

Ketika saya masih kanak-kanak kelas enam, sekolah di SD Gotong Royong di Kampung Pisangan Baru daerah Jatinegara, Jakarta Timur tahun 1970, saya suka sekali menonton film cowboy. Ketika itu film yang saya tonton tidak bersuara alias bisu, meskipun begitu saya dan teman-teman sekampung sangat menyukainya karena pada saat itu film layar lebar memang belum seperti sekarang. 

Bagi saya pada waktu itu, film yang bagus adalah film yang ceritanya banyak menampilkan adegan tembak-menembak antara jagoan dan para bandit, ada nona(non) yang diculik para bandit kemudian datanglah sang jagoan menolong si Non. Terjadilah perkelahian, kejar-kejaran di atas kuda. Sang jagoan kemudian mengacungkan pitolnya diarahkan ke para bandit, lalu sang jagoan menembakkan pistolnya ke arah lawan. Ada adegan “duel”, perkelahian satu lawan satu baik dengan tangan kosong maupun adu kecepatan menembak dengan pistol. Sedangkan film-film Indonesia yang paling saya suka pada saat itu di antaranya adalah Nyai Dasima, Tuan Tanah edawung, Pejuang, dll.

Pada setiap ada hajatan di kampung dengan menanggap film, saya dan teman-teman tak pernah absen untuk menonton dengan berselimutkan sarung (krebongan) untuk melindungi tubuh dari udara dingin, dan tak lupa juga membawa serta tikar pandan, tikar yang terbuat dari daun pandan. Meskipun dengan resiko akan kena marah dari orang tua serta dipukul dengan rotan oleh orang tua yang terasa pedih di pantat karena pergi nonton tak pernah bilang dan pulangnya menjelang Subuh.

demikianlah secuil cerita kenangan masa kanak-kanak saya ketika menonton film layar tancep di era tahun enampuluhan hinggalah sampai tahun tujuhpuluhan dengan segala romantikanya.

~KSP42~
Senin, 04 Mei 2020 – 08.12 WIB
Kp. Pangarakan, Lido - Bogor

Selasa, 27 Januari 2015

SLAMET PRIYADI: “MENGENAL FILM”



Seni Budaya Nusantara – Selasa, 27 Januari 2015 – KETIKA SAYA masih di sekolah dasar, saya suka sekali menonton film cowboy. Ketika itu film yang saya tonton tidak bersuara alias bisu, meskipun begitu saya dan teman-teman sekampung sangat menyukainya karena pada saat itu film layar lebar memang belum seperti sekarang.  Bagi saya pada waktu itu, film yang bagus adalah film yang ceritanya ada tembak-tembakan antara jagoan dan para bandit, ada nona(non) yang diculik para bandit kemudian datanglah jagoan menolong si Non. Terjadilah perkelahian, kejar-kejaran di atas kuda sambil menembakkan pistolnya ke arah lawan, ada “duel” perkelahian satu lawan satu baik dengan tangan kosong maupun adu kecepatan menembak dengan pistol. Adapun film Indonesia yang paling aku suka pada saat itu diantaranya adalah “Abang Puase” dan “Nyai Dasima”, Si Conat, Harun Pahlawan Aceh.

Pada setiap ada hajatan di kampung dengan menanggap film, saya dan teman-teman tak pernah absen untuk menonton meskipun dengan resiko kena marah dari orang tua dan gebukan rotan yang terasa pedih di pantat karena pergi nonton tak pernah bilang. Itulah resiko sebuah hobi menonton film di era tahun enampuluhan sampai tahun tujuhpuluhan ketika aku masih kanak-kanak.

Sobat, film merupakan kerja seni yang demikian kompleks karena di dalamnya melibatkan banyak komponen seperti teknologi, industry, seni rupa, musik, seni peran dan sebagainya  yang kesemuanya itu dikelola dan dipertanggung jawabkan secara kualitas oleh seorang sutradara.   Bagus dan jeleknya sebuah karya film, diterima atau ditolaknya sebuah film oleh masyarakat, pertanggungjabannya terletak pada seorang sutradara.

Mari kita simak, apa saja yang harus dikerjakan dan dipersiapkan oleh seorang sutradara dalam membuat karya film yang saya cuplik dari buku karya Usmar Ismail, “Mengupas Film” halaman 159 berikut ini:

1.   Menyelesaikan manuskrip menjadi suatu rencana kerja yang lengkap dengan bangunan montage-nya .
2.   Memilih para pelakon, para pemain.
3.   Bersama-sama dengan ahli dekor beserta kameraman dan ahli pengambil suara, merancang dekoryang diperlukan. Mencari tempat-tempat atau lokasi yang baik dan tempat untuk lokasi shooting.
4.   Bersama-sama dengan kameraman merancang sudut-sudut penglihatan kamera serta kemungkinan-kemungkinannya.
5.   Menyusun suatu rencana ambilan (opname prograamma) yang berarti memisahkan adegan-adegan yang berlaku pada satu tempat menjadi satu kesatuan dan menetapkan satu kalender kerja.
6.   Mengatur permainan.
7.   Mengamat-amati hasil usaha laboratoriumyang mengerjakan film yang baru diambil dan memeriksa cetakan pertama (werk copie).
8.   Montage.

Dengan demikian sutradara adalah satu-satunya orang yang menjadi central pengatur pembuatan film dari awal sampai akhir. Kendati demikian, film adalah karya seni bersama yang memerlukan banyak ahli bagi tiap cabang pekerjaannya. Yakh, sedikitnya staf pekerja, selain dari sutradara, harus terdiri dari seorang asisten sutradara yang berkewajiban memimpin pekerjaan-pekerjaan sebelum opname.

Seorang kameraman dan asistennya, seorang pengambilan  suara dan asistennya, seorang ahli listrik dan asistennya, seorang ahli dekor dan pembantunya, seorang pemegang skrip yang harus mencatat segala sesuatu mengenai jalannya opname, panjangnya suatu ambilan, adanya persambungan yang logis antara ambilan-ambilan dan adegan –adegan (continuity) dan lain sebagainya, seorang pemimpin opname, seorang ahli rias dan pakaian (property), seorang ahli montage. Daftar seperti ini bisa diperpanjang lagi, akan tetapi kebanyakan film studio di Indonesia memakai staf hanya empat, lima  orang saja yang masing-masing merangkap empat atau lima macam pekerjaan dengan alas an ekonomis dan efisien. Benar ekonomis, benar efisien, akan tetapi hal tersebut belum tentu bagus jika ukurannya adalah kualitas. 

Selasa, 27 Januari 2015 - 21:08 WIB
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan, Bogor