Tampilkan postingan dengan label Sang Penyair dan Budayawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sang Penyair dan Budayawan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

Mengenal Warna Puisi Sitor Situmorang

Oleh Agus S Warman | Sabtu, 29 Desember 2012 

Sitor Situmorang
SUARA KARYA ONLINE - Bagi saya, apa yang paling terkenang dari puisi Sitor Situmorang, terutama dari periode awal, khususnya kumpulan Surat Kertas Hijau, Dalam Sajak, dan Wajah Tak Bernama, bukanlah isi filsafat - misalnya tentang keisengan atau keterasingan - melainkan bunyi dan rupa, bahkan tertib-rupa dan tertib-bunyi.

Ciri demikian itu membebaskan dia dari lingkungan pengaruh Chairil Anwar, sosok pembaharu dari generasinya sendiri, dan mendekatkan dia kepada Amir Hamzah. Memahami puisi puisi Sitor Situmorang sebenarnya tidaklah terlalu rumit. Bahkan bisa dikatakan gampang, karena susunan kata dan frase Sitor segera meninggalkan gema di hati dan kepala. Bisa begitu, karena Sitor Situmorang dalam berkarya apapun tak akan pernah lepas dari kedekatannya kepada bunyi alam atau nyanyian anak. Namun, jangan buru-buru mengatakannya penyair kuno hanya karena Sitor Situmorang selalu merasa terikat dengan penggunaan bentuk puisi lama, seperti pantun dan soneta. Sebenarnya, Sitor pun telah menulis banyak mengenai puisi-puisi yang bersentuhan langsung dengan masa lampau dan tradisi kekinian. Jelaslah, tertib-pola demikian adalah sarana untuk menapis, juga menundukkan, derau dan gebalau pengalaman modern.

Generasi Sitor, masuk dalam Angkatan '45, memang dikenal sebagai kelompok penyair yang begitu menggandrungi puisi bebas. Tetapi Sitor sendiri tidak demikian. Buktinya, puisi puisi Sitor tidak jarang didominasi dengan persoalan kekinian. Tak jarang pula puisi-puisi Sitor terjebak dalam permainan kata yang berlebihan, kemubaziran, yang hanya mengekor modernitas, bukan mempersoalkannya. Kita lihat, puisi bebas Sitor "hanyalah" bentuk yang lebih lentur-cair dari pantun dan sonetanya. Kesepian, juga keisengan, keterasingan, kebosanan, mungkin juga kemabukan. Kalimat-kalimat yang mengandung unsur filsafat semua ada dalam puisi Sitor: suatu pandangan dunia yang tak tertawarkan lagi?

Seorang penyair modern yang sejati, mestinya adalah sang flaneur, sebagaimana halnya Baude-lairre: seorang pejalan iseng yang mengalami pemandangan, dunia, sebagai hal terpecah-pecah, de-kaden-ia pencari keburukan ketimbang keindahan. Namun Sitor adalah seorang flaneur yang tak sepenuh hati. Ia pemburu keindahan atau sisanya. Seperti Pablo Neruda, Sitor berkelana dengan membawa kampung halamannya dalam bungkusan. Neruda seperti hendak meluaskan tanah airnya ke seluruh bumi; sedang Sitor, ingin menjadi orang-dunia namun diganduli oleh warisan leluhurnya. Sitor meragukan, mungkin menyangkal, asal-usulnya justru dengan menggunakan puisi lama-soneta dan pantun. Keduanya sampai juga ke "jalan kiri" dengan alasan berbeda: Neruda lantaran kejenuhannya dengan puisi modern: Sitor, justru karena keberjarakannya. Sitor melakukan rekonsoliasi dengan kampungnya, kampung yang kini diluaskannya sebagai "bangsa": demikianlah keisengan (yang tak pernah menjadi filsafat itu) digantikan ide, bahkan ideologi. Maka impresionisme menjadi realisme; dan pantun dan sonet pun bertukar dengan puisi bebas. Sitor sang flaneur yang bimbang tak cukup radikal dalam melawan komunitasnya, sebagaimana sang komunitas juga begitu setengah hati untuk meninggalkan masa lampaunya. Mungkinkah "aku" menjadi "kami" atau "kita" dalam derap "revolusi"? Mungkin sekali tidak. Puisi Sitor selepas 1970-an adalah upaya mendedahkan "aku" kembali, sang pejalan: kini ia bukan pemburu keisengan melainkan pengumpul cendera mata dari pelosok Nusantara dan mancanegara. Di sini tiada lagi musik atau tertib-bunyi yang bisa melunakkan isi-sajak.



Tapi jika kita sudah terlalu banyak mendengar khotbah dari segala penjuru, "filsafat" dalam puisi tak penting lagi. Itu sebabnya kita selalu kembali kepada puisi Sitor Situmorang dari 1950-an, di mana musik dan bunyi begitu utama, sehingga kita bisa merayakan keisengan murni-dalam arti menjadi makhluk bermain, homo ludens-setelah kita menjadi begitu jinak dan seragam dalam jejaring sistem. Menjadi "bunga di atas batu, dibakar sepi": liar, keras kepala, tak menyerah. Demikianlah puisi Sitor yang terbaik, justru membuat kita mampu mengsongsong "filsafat" yang dikandungnya dengan haram. (SKO)

Kamis, 13 Desember 2012

"SAPARDI DJOKO DAMONO" TERIMA PENGHARGAAN Aswin Rizal Harahap


Sapardi Djoko Damono Terima Penghargaan
Kamis, 13 Desember 2012 | 23:22 WIB | Kompas/Aswin Rizal Harahap


Sapardi Djoko Damono

JAKARTA, KOMPAS.com — Akademi Jakarta menganugerahkan "Penghargaan Akademi Jakarta 2012" kepada budayawan Sapardi Djoko Damono di Taman Ismail Marzuki, Kamis.
Ketua Akademi Jakarta Taufik Abdullah mengatakan, "Penghargaan Akademi Jakarta" tidaklah diperuntukkan bagi penghasil karya seni terbaik.

"Penghargaan ini diberikan pada pribadi yang telah memberikan kontribusi yang berarti secara konsisten dalam kehidupan dan dinamika kebudayaan di Tanah Air dan ini merupakan pencapaian seumur hidupnya," ujar Taufik pada kata sambutan acara penyerahan Penghargaan Akademi Jakarta 2012.

Ketua Dewan Juri "Penghargaan Akademi Jakarta 2012", Bambang Bujono, dalam laporan dan keputusan juri menyebutkan, kriteria calon penerima penghargaan diberikan berdasarkan kesepakatan lima juri adalah tokoh yang sudah berusia 50 tahun ke atas dari berbagai bidang kesenian dan budaya, belum pernah mendapat penghargaan sejenis, punya prestasi nasional dan internasional, serta tetap konsisten berkarya dalam jangka waktu cukup panjang dengan pencapaian di atas rata-rata.

Dari sekitar 80 nama yang dicalonkan, Sapardi dianggap yang paling setia dalam berkarya dan mampu memberikan sumbangan berarti pada dinamika kebudayaan Indonesia. Kesetiaan Sapardi terbukti dari buku kumpulan puisi yang terbit tidak kurang dari 10 buku, beberapa kumpulan prosa, serta sejumlah esai kesusastraan yang dia terbitkan.

"Pengaruh puisi Sapardi pada generasi selanjutnya cukup besar dan terasa. Bahasa Sapardi sangat sehari-hari sehingga mudah dimengerti dan kemudian diikuti oleh penyair-penyair selanjutnya," ujar Bambang.

Sebelum diubah menjadi "Penghargaan Akademi Jakarta", penghargaan ini diberi nama "Hadiah Seni Akademi Jakarta" yang diberikan kepada Rendra (1975), Zaini (1978), Gregorius Sidharta Soegijo (2003), Nano S (2004), dan Gusmiati Suid (2004).

"Penghargaan Akademi Jakarta" sebelumnya juga telah diberikan kepada Retno Maruti (2005), Amir Pasaribu (2006), Raden Pandji Soejono (2006), Tenas Effendy (2006), Sutardji Calzoum Bachri (2007), Slamet Rahardjo Djarot (2008), Putu Wijaya (2009), Taufik Ismail (2009), Rahayu Supanggah (2011), dan tahun ini diberikan kepada Sapardi Djoko Damono.

"Terima kasih atas kepercayaan Akademi Jakarta dengan memberikan penghargaan ini kepada saya. Sejak kecil saya bukanlah anak yang istimewa, tapi saya tidak bodoh," ujar Sapardi pada kata sambutannya.

Selasa, 11 Desember 2012

"GOENAWAN MOHAMAD DAN SEJARAH"



Goenawan Mohamad dan Sejarah
Diperbaharui 11 December 2012, 17:45 AEST

Gunawan Mohamad, jurnalis, penyair - http://cigombong80.blogspot.com
Gunawan Mohamad (Foto: SP)
Lelaki itu tampak lebih muda untuk ukuran seusianya. Raut mukanya terbilang tirus. Cambang, jenggot, dan kumisnya tak begitu panjang. Tubuhnya tidak kekar, tapi tegap dan sehat karena olah raga yang rutin dijalaninya. Penampilannya kalem, sikapnya santun, dandanannya bersahaja. Kacang bawang dan kerupuk kampung adalah makanan kesukaannya. Kadang di halaman kantor, saya melihatnya melangkah pelan dengan segepok buku dalam jinjingan. Sesekali saya mendapatinya duduk di kedai kantor, dikelilingi sejumlah anak muda yang antusias dan khusyuk berdiskusi dengannya. Pernah juga saya melihatnya sedang menulis dengan laptop, membaca buku dengan kaca mata yang gagangnya patah sebelah, atau sekadar duduk terkantuk-kantuk. Saya bayangkan, alangkah lelah sepasang mata tua itu, sepasang mata yang jarang terpejam dan lebih sering berkelana di sesela aksara. Tapi bukan karena semua itu orang mengenal dan menghormatinya. Ia lebih dikagumi karena pemikirannya yang cerdas dan pandangannya yang jernih sebagaimana tercermin dalam karya-karyanya. Goenawan Mohamad, penyair dan jurnalis terkemuka. 

Sebagai penyair, ia telah menghasilkan cukup banyak puisi liris yang menebarkan pengaruh kuat dan luas pada khazanah sastra Indonesia. Dan sebagai jurnalis, ia telah membuktikan kepiawaiannya dengan merintis sebuah majalah mingguan berita hingga mekar menjadi media massa terpenting yang mengembangkan gaya penulisan naratif dan menyuburkan pertumbuhan bahasa. Karena itu, ia tak hanya dihormati, tapi juga dianugerahi banyak penghargaan di dalam dan luar negeri. 

Kemasyhuran tak membuatnya busung dada. Puncak-puncak prestasi tak menjadikannya tinggi hati. Puja dan cela seolah tak mampu mengubahnya. Ia tetap sebagai sediakala sejak saya mengenalnya: lelaki tua bersahaja. Kebersahajaan yang terbentuk oleh sejarah.

Dalam sebuah kesempatan ia menjelaskan, bahwa ia cenderung melihat “sejarah” sebagai sebuah proses. Sebab “catatan tentang masa lalu” berarti terlibat dan mengalami proses. Selalu mengalami peninjauan baru, atau penafsiran baru. Dan ke-baru-an itu terjadi karena manusia berubah.

Meresapi penjelasannya, saya tertarik untuk mengetahui lebih banyak  tentang peristiwa yang ia anggap bersejarah. Katanya, ada banyak peristiwa yang mempengaruhi hidupnya. Salah satunya, ketika ayahnya ditangkap dan ditembak mati tentara Belanda sebelum ia bersekolah. Keluarganya, yang dipimpin sang ibu, meninggalkan daerah pendudukan Belanda ke daerah yang dikuasai Republik. Hal tersebut menanamkan ke dalam diri Goenawan Mohamad ikatan yang dalam dan kuat kepada Indonesia.

Peristiwa bersejarah berikutnya adalah ketika ia bisa memecahkan satu soal aritmatika yang rumit di sekolah dasar. Kejadian tersebut memberi kepercayaan besar pada dirinya. Ia juga menganggap pengalaman pertama membaca Winnetou Gugur karya Karl May sebagai sebuah momen tak terlupakan. Itu juga terjadi semasa sekolah dasar. “Buku itu mengajarkan arti persahabatan dan keberanian melawan yang jahat,” tuturnya. Dulu, guru geometrinya mengatakan bahwa geometri bukanlah pengetahuan untuk jadi insinyur, melainkan untuk latihan berpikir logis dan teratur. Ucapan sang guru itu selalu terpatri dalam benaknya. Berpikir logis dan teratur itulah yang selalu ia lakukan dalam menghadapi beragam masalah, termasuk dalam memandang sejarah.

Selain pengalaman getir, masa muda Goenawan Mohamad juga meninggalkan banyak kenangan manis. Seperti saat ia menjadi juara lari gawang, dan pada saat yang berdekatan ia bertemu dengan guru silat yang baik. Mendengar puisi dan musik yang disiarkan Radio Republik Indonesia stasiun Jakarta, atau menyaksikan guru-guru SMP-nya bermain musik klasik dan para murid menyanyi paduan suara “Negro Spiritual”, baginya merupakan kenangan indah.

Di SMA, Goenawan Mohamad menjadi pemimpin redaksi majalah dinding. Sajak terjemahannya atas karya Emily Dickinson dan Apollinaire dimuat di sebuah koran terbitan Jakarta. Di masa kuliah, ia tak akan melupakan saat-saat belajar filsafat di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, karena salah satu pengajarnya adalah Profesor Driyarkara. Pada masa itu pula esei dan sajaknya dimuat di majalah Sastra. Demi memperluas wawasan Goenawan Mohamad melanjutkan pendidikan di Bruges dan Oslo.

Sepulangnya ke Indonesia ia mendirikan majalah Ekspres. Perjalanan karirnya tidak mudah. Ia dipecat. Namun ia tak patah semangat. Ia kemudian mendirikan majalah Tempo, yang berhasil menjadi salah satu media paling berpengaruh di Indonesia. Ketika Tempo dibredel untuk kedua kalinya, ia bersama beberapa teman membentuk jaringan “bawah tanah” pro-demokrasi.

Kepeduliannya pada seni dan pemikiran ia wujudkan dengan membentuk Komunitas Utan Kayu, sebuah wadah yang memperjuangkan kebebasan berpikir dan berekspresi, oase bagi penumbuhan kreativitas dan intelektualitas di Jakarta.

Kini Goenawan Mohamad banyak mencurahkan perhatiannya pada satu lagi tempat berkesenian yang ia bangun: Komunitas Salihara. Tak beda jauh dengan Komunitas Utan Kayu, tempat itu menjadi melting pot bagi para seniman dari seluruh penjuru dunia untuk saling bertukar pikiran dan mengekspresikan karya mereka.

Sebagai orang yang telah mengalami banyak momen sejarah, termasuk sejarah yang ia ciptakan sendiri, ia berpesan, “Dunia berubah cepat. Dalam keadaan seperti itu, pengalaman orang tua, yang lebih dulu hidup, tak banyak guna. Generasi muda harus kreatif untuk menemukan cara merespon keadaan yang selalu berbeda.” Dengan demikian, lanjutnya, perlu sikap terbuka terhadap kebaruan, perbedaan, dan benturan pandangan. Sebab, hal itu akan sering terjadi.

Perubahan yang cepat, menurutnya, bisa membuat orang gentar. Karena itu, “Generasi muda harus siap menghadapi sikap yang takut perubahan dan perbedaan, termasuk sikap konservatif. Tiap kali ada ketidak-adilan dan pengekangan atas kemerdekaan, generasi muda harus melawan. Kalau tidak, masyarakat akan hancur.” Namun, ia juga tak lupa mengingatkan: seraya berjuang mati-matian, pada akhirnya setiap orang harus siap menerima kenyataan bahwa tak semua cita-cita baik akan terlaksana.