Tampilkan postingan dengan label PROSA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROSA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Desember 2012

Syekh Siti Jenar Versi “Serat Negara Kertabumi” Blog Slamet Priyadi: "Karya Seni Budaya Nusantara"



Penulis: Slamet Priyadi
Karya Seni Budaya Nusantara | Minggu, 30/12/2012 | 03:50.00 WIB
    
Slamet Priyadi
Cerita eksekusi Syeh Siti Jenar versi Serat Negara Kertabumi berbeda dengan versi-versi lain yang biasa kita baca dan saksikan dalam buku-buku maupun film. Hal ini sebagaimana suntingan Rahman Sulendraningrat dalam buku "Siti Jenar-Cikal Bakal Faham Kejawen" tulisan YB. Prabaswara,  halaman 32-34:

   
"Seperti juga versi Jawatengahan, sastra Kacirebonan ini menceritakan bahwa para pengikut Syeh Siti Jenar di Cirebon merupakan kelompok oposisi atas kekuatan kasultanan Cirebon. Beberapa tokoh pimpinan kelompok ini pernah mencoba untuk merebut tahta tapi tak pernah berhasil. Ketika Pengging dilumpuhkan, Syeh Siti Jenar yang pada waktu itu menyebarkan ajarannya di sana kembali ke Cirebon dan diikuti oleh para pengikutnya dari Pengging. Di sini, kekuatan Syeh Siti Jenarmenjadi kokoh, pengikutnya meluas dan menyebar sampai ke desa-desa. Setelah Syeh Datuk Kahfi wafat, Sultan Cirebon meminta Pangeran Punjungan untuk menjadi guru agama Islam di Amparan Jati. Pangeran Punjungan bersedia, tetapi ia tidak mendapat murid karena orang-orang sudah menjadi murid Syeh Siti Jenar termasuk Panglima bala tentara Cirebon, Pangeran Carbon. Dijaga oleh para murid-muridnya sangat setia itu, Syeh Siti Jenar aman tinggal di Cirebon. Berita ini sampai ke telinga Sultan Demak, bahwa musuhnya berada di Cirebon. Sultan Demak lalu mengutus Sunan Kudus disertai 700 prajurit menuju Cirebon.  Sultan Cirebon  menerima permintaan Sultan Demak dengan tulus, bahkan memberi bantuan untuk tujuan itu.

     Langkah pertama Sultan Cirebon adalah mengumpulkan para murid utama Syeh Siti Jenar  antara lain, Pangeran Carbon, para Kyai Geng, Ki Palumba, Adipati Cangkuang, dan beberapa orang istana Pangkuangwati. Selajutnya bala tentara Cirebon dan Demak bergerak menuju Padepokan Syeh Siti Jenar di Cirebon Girang. Syeh Siti Jenar kemudian ditangkap dan dibawa ke Masjid Agung Cirebon untuk diadili. Di Masjid Cirebon banyak para ulama  telah berkumpul. Sunan Gunung Jati bertindak sebagai hakim ketua. Melalui perdebatan yang panjang, pengadilan memutuskan bahwa Syeh Siti Jenar bersalah besar, dan pengadilan memutuskan bahwa Syeh Siti Jenar mendapat hukuman mati. Selang beberapa waktu, akhirnya Syekh Siti Jenar dieksekusi mati oleh Sunan Kudus dengan keris pusaka Sunan Gunung Jati. Peristiwa ini terjadi pada bulan Safar, tahun 923 H atau 1506 Masehi.

Mayat Syeh Siti Jenar lalu dimakamkan di suatu tempat yang tidak diketahui.  Akan tetepi lama kelamaan  orang dapat mengetahui  tempat tersebut. Merekapun terutama para pengikut dan murid-murid Syeh Siti  Jenar,  berdatangan  berziarah ke makam  Syeh Siti Jenar. Para peziarah itu ada yang datang dari Cirebon, Jakarta, Banten, Parahiyangan,  Jawa Timur, dan bahkan dari Semenanjung Malaya. Melihat kenyataan ini Sunan Gunung Jati  memerintahkan kepada segenap kawulanya agar memindahkan secara diam-diam mayat Syeh Siti Jenar ke suatu tempat yang sangat dirahasiakan.  Mayat Syeh Siti Jenar diganti dengan bangkai seekor anjing hitam. Pada waktu para peziarah, terutama pengikut dan murid-murid Syekh Siti Jenar menghendaki agar mayat Syekh Siti Jenar dipindahkan ke Jawa Timur. Makampun digali kembali, apa yang terlihat? Ternyata mayat Syekh Siti Jenar tidak ada yang ada hanyalah bangkai seekor anjing hitam. Para peziarahpun sangat terkejut, haran dan tidak mengerti mengapa mayat Syeh Siti Jenar berubah menjadi bangkai seekor anjing hitam. Mereka beranggapan kalau mayat syekh Siti Jenar telah berubah menjadi seekor anjing. Menyikapi keadaan seperti ini sultan Cirebon kemudian mengeluarkan instruksi agar para peziarah, dan para pengikut ajaran Syeh Siti  Jenar tidak  menziarahi bangkai seekor anjing dan segera meninggalkan ajaran Syeh Siti Jenar  yang sesat”.

Tanggapan:
     Menyikapi tindakan yang dilakukan Sunan Gunung Jati mengganti mayat Syekh Siti Jenar dengan bangkai seekor anjing, jika itu memang benar, malah justru mengangkat derajat Syekh Siti Jenar, dan itu tak ada salahnya. Menurut sebagian sufi, anjing bukanlah khewan nista, najis dan diharamkan bahkan sebaliknya malah dihormati. Hal ini sebagaimana yang dilakukan, “Husain ibnu Manshur Al-Hallaj” seorang tokoh sufi yang menjadi inspirasi lahirnya ajaran Syekh Siti Jenar di Jawa. Beliau adalah seorang tokoh yang sangat menghormati anjing, diceritakan Fariduddin Aththar:

     “Suatu ketika, Sekh Abdullah Turugbadi dari kota Thus menggelar taplak, dan makan roti bersama murid-muridnya ketika Manshur Al-Hallaj tiba dari kota Qasymir  berpakaian qaba’hitam sambil membawa 2 ekor anjing hitam yang dirantai. Syekh berkata kepada murid-muridnya, "seorang lelaki muda yang berpakaian seperti ini akan segera datang, bangkitlah kalian semua, dan temui, karena dia melakukan hal-hal yang besar."
 
     “Merekapun keluar untuk menjumpai lelaki itu yang bukan lain adalah Husain ibnu Manshur Al-hallaj dan segera membawanya masuk. Setelah menghampirinya, Syekh segera mempersilahkan tempat duduk kepada Al-Hallaj sambil membawakan 2 ekor anjingnya untuk ikut makan di dekat mejanya. Tuan Syekh melihat Al-Hallaj makan roti dan memberi makan roti pula kepada anjing-anjingnya itu.  Ketika Al-Hallaj berpamit untuk kembali, tuan Syekh segera beri untuk mengucapkan selamat jalan. Setelah Al-Hallaj pergi, murid-murid tuan Syekh bertanya, ‘Mengapa tuan Syekh membiarkan orang semacam itu, yang makan bersama annjing-anjingnya, duduk di tempat tuan Syekh, seorang pengembara yang kehadirannya membuat seluruh makanan kita tidak suci lagi?” Tuan Syekh menjawab dan memberikan penjelasan kepada murid-muridnya:

     “Anjing-anjing itu sebenarnya lambang keakuan (nafsu), mereka tinggal diluar dirinya, dan berjalan disisinya, sementara anjing-anjing kita masih berada dalam diri kita, dan kita mengikuti di belakangnya.”

      Itulah perbedaan antara seseorang yang mengikuti anjing dan orang yang diikuti anjing. Anjing-anjingnya berada di luar, dan kalian dapat melihat mereka, sementara anjing-anjing kalian tersembunyi berada di dalam hati kalian, dan kalian tak bisa melihatnya. Kedudukan orang itu seribu kali lebih tinggi dari kedudukan kalian. Dia telah berada dalam  tataran ajaran Tuhan, sifat-sifatnya telah menyatu dengan Tuhan, apakah ada seekor anjing atau tidak, dia hanya ingin mengarahkan segala tindakannya itu dengan  apa yang diperintahkan Tuhan.”
            
     Anjing digambarkan sebagai symbol arakter yang harus dikeluarkan dari diri manusia. Karena menjadi symbol, maka anjing akrab dengan kehidupan para sufi, termasuk Al-Hallaj dan bisa jadi demikian pula dengan Syekh Siti Jenar yang diumpamakan seperti anjing. Dalam kisah di zaman Rasulullah, ada seorang pelacur masuk syurganya Allah karena dia dengan ikhlas menolong seekor anjing yang sedang kehausan. (Referensi: YB.Prabaswara, Siti Jenar Cikal Bakal Kejawen. Penerbit Armedia-Jakarta.)

Penulis: Slamet Priyadi
Karya Seni Budaya Nusantara | Minggu, 30/12/2012 | 03:50.00 WIB

Minggu, 02 Desember 2012

"FUNGSI DONGENG" Oleh Sita S.Priyadi



Image: Sita dan Cucu - http://pangarakan.blogspot.com
MINGGU, 02 DES. 2012 - Slamet Priyadi Blog: Sesungguhnya pada masa perkembangan kepribadian anak, dongeng perlu bahkan mutlak diperlukan. Karena daya imajinasi pada masa-masa atau priode ini sangat berperan, sebab antara realita dan khayalan belum bisa dipisahkan dalam kehidupan anak. Dongeng yang didengarkan seperti Gadis Cilik dan Korek Api dan Putri Salju dari HC Handersen, Kancil Yang Cerdik dan lain-lain, semuanya itu merupakan bagian dari dunia anak-anak yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka. Oleh karena itu logis saja apabila sejak dahulu anak-anak sangat menggandrungi dongeng, dan orang tua seyogyanya senang untuk menceritakan dongeng kepada anak-anaknya.

Melalui dongeng inilahlah anak secara tidak langsung dapat mempelajari, memahami dan menghayati segala bentuk nilai-nilai, norma-norma dan kaidah-kaidah kehidupan seperti: keberanian, kecerdikan, kejujuraakan, kebahagiaan, kelicikan, kebodohan dan sebagainya. Dengan dongeng secara positif bisa mengembangkan kepribadiannya. Anak bisa menghargai kecerdikan si kancil dalam cerita si kancil yang cerdik di mana anak merasakan betapa kerbau yang telah menolong buaya yang tertindih pohon merasa tertipu dan tak berdaya, karena kemudian buaya hendak memangsanya. Di sini si anak dapat merasakan dan menghargai kecerdikan si kancil yang mampu menolong kerbau dari terkaman sang buaya karena kecerdikannya.

Dongeng itu tidak perlu logis. Yang penting bagi orang tua yang ingin mendongengkan anak-anaknya perlu memilih dongeng yang mengandung nilai-nilai pendidikan yaitu cerita dongeng yang dapat mengembangkan kepribadian anak dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan tuntutan masyarakat dan lingkungan di mana anak berada.

Jelaslah, dongeng selain mampu mengembangkan kepribadian dan imajinasi anak, juga berfungsi untuk mengakrabkan hubungan antara anak dengan orang tua. Hal ini terbukti dengan seringnya kakek, nenek, ayah, ibu kita dahulu menceritakan dongeng-dongeng yang mengandung nilai-nilai kesetiaan, kejujuran, kesabaran, dan keberanian yang memukau anak-anak dan cucu-cucunya, sehingga anak merasakan adanya hubungan batin yang mendalam, akrab dengan kedua orang tua maupun kakek dan neneknya.

Minggu, 30 Januari 2011
Rosita S.Priyadi di Pangarakan Bogor  

Artikel terkait:


“ASAL MULA BANYUWANGI” Diceritakan oleh Sita


Di pantai Timur Pulau Jawa ada sebuah kerajaan yang diperintah oleh Sri Baginda Prabu Menak Prakosa. Ia mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Ia juga mempunyai seorang putra yang gagah, cakap, dan tampan parasnya bernama Raden Banterang. Raden Banterang inilah yang kelak menjadi putera mahkota menggantikan ayahnya sebagai raja. Ia sangat ditakuti dan disegani rakyatnya. Akan tetapi ada sedikit kelemahan pada dirinya sebagai seorang pangeran yang kelak menjadi raja. Wataknya pemberang dan cepat marah, bahkan tak segan-segan ia member hukuman yang berat kepada hambanya jika tidak menuruti perintahnya.

Suatu ketika Raden Banterang berburu khewan bersama pengiringnya. Dalam perburuan tersebut secara tak disengaja ia berpisah dengan para pengiringnya. Raden Banterang tersesat sampai jauh ke dalam hutan hingga akhirnya tiba di sebuah sungai. Di tepi sungai itu nampak seorang gadis berparas cantik seperti putri raja sedang memetik bunga, Raden Banterang sangat terpesona dengan kecantikan paras gadis tersebut. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, “Sedang mimpikah aku ini, mengapa di tengah hutan selebat ini, di tepi sungai pula, ada seorang putri cantik seorang diri saja tanpa ditemani oleh siapa-pun?”  Maka bertanyalah Raden Banterang kepada gadis tersebut:

            “Wahai Tuan Putri yang cantik jelita, siapakah Tuan ini? Mengapa Tuan Putri berada di tempat ini sendirian saja? Manusia atau Dewikah Tuan Putri ini?”
Mendengar sapaan yang tak diduga dari Raden Banterang, gadis itu sangat terkejut, ia sama sekali tak menyangka jika di tengah hutan tempat ia bersembunyi masih saja ada orang yang mengetahuinya. Gadis itu pun lalu menjawab dengan mimik muka ketakutan:

            “Saya manusia biasa, sama sekali bukan dewi. Saya berada di sini bersembunyi karena  takut akan serangan musuh. Beberapa waktu lalu kerajaan kami diserang oleh kerajaan musuh. Ayah saya tewas gugur terbunuh dalam mempertahankan mahkota kerajaan. Sejak saat itu saya mengembara seorang diri sampai akhirnya bersembunyi di tempat ini.”

            “Benarkah Tuan Putri adalah putri Raja Klungkung?” Tanya Raden Banterang kepada gadis itu.
            “Benar yang Tuan katakana, saya adalah Surati putri Raja Klungkung yang gugur itu.”

Raden Banterang diam beberapa saat. Sesungguhnya ia mengetahui bahwa yang menyerang kerajaan Klungkung adalah kerajaan yang dipimpin oleh ayahnya sendiri. Mendengar cerita gadis tersebut Raden Banterang menjadi iba. Selanjutnya putri raja Klungkung dibawa ke istana. Tak lama kemudian oleh Raden Banterang, putri raja Klungkung itu dinikahinya, dan mereka berdua hidup bahagia.

Rakyat kerajaan Menak Prakosa semuanya ikut berbahagia karena Raden Banterang mendapat istri yang selain cantik dan elok rupawan, elok pula perangainya. Berkat keelokan perangai dan budi pekerti Dewi Surati putrid raja Klungkung itu, sifat pemarah Raden Banterang berangsur-angsur lenyap. Suatu ketika Dewi Surati berjalan-jalan di luar istana. Secara tak disengaja ia berjumpa dengan seorang laki-laki kumal berpakaian compang-camping layaknya seorang pengemis. Laki-laki itu berteriak-teriak memanggil namanya:

            “Surati, Surati!”

Alangkah terkejutnya Dewi Surati mendengar teriakan yang memanggil-manggil namanya. Dipandangnya laki-laki itu secara saksama. Akhirnya Dewi Surati mengenali wajah laki-laki itu yang tak lain adalah kakaknya sendiri yang sudah lama berpisah sejak penyerbuan kerajaan Klungkung dikalahkan oleh kerajaan Prabu Menak Prakosa. Dewi Surati pun mendekati saudara laki-lakinya itu yang memang sudah lama dirindukannya. Berkatalah Dewi Surati kepada saudaranya itu:

            “Aduh, kakanda tercinta! Adinda tidak mengira kalau kita dapat bersua lagi. Adinda menyangka kakanda sudah gugur di medan tempur saat menghadapi serangan musuh bersama-sama ayahanda tercinta. Kiranya Sang Dewata Agung masih melindungi kita berdua.” 

            “Surati, sungguh adinda tidak tahu malu. Mengapa adinda mau diperistri oleh laki-laki yang sesungguhnya adalah pembunuh ayahanda sendiri. Sungguh aku mengutukmu Surati. Sekarang kakanda akan menuntut balas atas kematian ayah kita. Maukah adinda membantu kakanda?”

Mendengar ucapan kakaknya yang mengajak untuk membalaskan dendamnya, Dewi Surati tegas menjawab: 

            “Maaf kakanda, adinda tidak bisa membantu kakanda karena Raden Bantering adalah seseorang yang telah menolong hamba dalam kesusahan, dialah yang telah menyelamatkan adinda dari berbagai penderitaan saat bersembunyi sendiri di tengah hutan, dan Raden Banterang pun sekarang sudah menjadi suami adinda tercinta. Maaf, sekali lagi maaf kakanda, adinda tidak bisa mengabulkan permintaan kakanda untuk membalaskan dendam.”

Mendengar semua penuturan itu, kakak kandung Dewi Surati Nampak kecewa sekali. Ia menggerutu dalam hatinya, “Awas kau Surati, rupanya kau telah mengkhianati keluarga kita sendiri.” 

Suatu hari Raden Banterang pergi berburu, saat sedang mengejar seekor kijang, datang seorang pengemis menghampiri  Raden Banterang seraya berkata: 

            “Tuanku Raden Banterang, sejak tadi hamba mencari tuanku di hutan ini. Percayalah pada hamba tuanku, bahwa jiwa tuanku sangat terancam bahaya. Ada seseorang yang ingin membunuh tuanku. Orang itu adalah permasuri Tuanku sendiri Dewi Surati. Tadi hamba melihat dengan mata kepala hamba sendiri, permaisuri bersama seorang laki-laki merencanakan pembunuhan terhadap Tuanku. Cepat kembali Tuanku, jika masih tak percaya pada hamba buktikanlah nanti, di bawah peraduan permaisuri ada sebilah keris pusaka kerajaan Klungkung yang diperuntukan untuk membunuh Tuanku.” 

Setelah berkata demikian pengemis itu bergerak cepat hilang di balik semak-semak. Raden Banterang sangat terkejut mendengar berita dari seorang pengemis yang tiba-tiba saja datang menhampirinya. Ia sungguh percaya dengan apa yang dikatakan pengemis itu meskipun hati kecilnya mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh pengemis itu adalah bhong belaka.

Raden Banterang pun bergegas pulang kembali ke istana. Sesampai di istana Ia langsung memeriksa peraduan permaisurinya. Apa yang dilihat, benar saja di bawah peraduan itu terdapat keris pusaka kerajaan Klungkung. Alangkah panasnya hati Raden Banterang melihat semua kenyataan ini. Ternyata apa yang dikatakan pengemis di hutan tadi adalah benar. Artinya permaisurinya sendiri telah mengkhianatinya, bersekongkol dengan saudara laki-lakinya untuk membunuh dirinya. Kemarahan Raden Banterang pun sudah tak bisa dikendalikan lagi. Lalu diajaknyalah permaisurinya Dewi Surati ke muara sebuah sungai. Di sana Raden Banterang menceritakan semua apa yang didengar dari seorang pengemis yang mengatakan tentang rencana pembunuhan kepada dirinya saat berburu di hutan. Raden Banterang berkata kepada Dewi Surati dengan nada penuh kemarahan:

        “Inikak balasanmu kepada semua kebaikanku, Surati?”

     “Adinda berani bersumpah, sungguh! Seujung kuku pun sekali-kali hamba tidak melakukan seperti yang kakanda tuduhkan itu.”  Mendengar jawaban Dewi Surati kemarahan Raden Banterang malah bertambah. Ia membentak Dewi Surati sambil memperlihatkan keris yang ditemukannya di bawah peraduan Dewi Surati:

        “Diam kau, pendusta! Lihatlah, apa ini yang kupegang, keris pusaka ayahandamu, bukan?!”
           
       “Kakanda Raden Banterang, itu memang keris ayahandaku, keris pusaka kerajaan Klungkung. Akan tetapi, demi Dewata Yang Agung pusaka itu hanya diwariskan dan dipegang oleh kakak hamba. Sungguh hamba tidak mengerti kenapa keris pusaka itu sekarang bisa ada di tangan kakanda Raden Banterang?” Dewi Surati berupaya menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya, kemudian melanjutkan kata-katanya lagi:

          “Raden Banterang, adinda berani bersumpah bahwa adinda masih istri yang setia kakanda. Memang adinda akui, kakak hamba datang menemui hamba di luar istana untuk meminta bantuan hamba untuk membunuh kakanda Raden Banteran. Tetapi semua itu hamba tolak, hamba tidak mau.”

Raden Banterang tetap tidak mau mempercayai dengan semua kata-kata yang diucapkan oleh permaisurinya Dewi Surati dengan tulus itu, maka Raden Banterang pun menghunus keris yang ada di pinggangnya itu membunuh Dewi Surati.

           “Baiklah, baiklah…jika kakanda sudah tak mempercayai adinda, adinda rela mati menemui ajal di sungai ini. Akan tetapi harap kakanda camkan baik-baik, bahwa jika nanti air sungai ini berbau harum mewangi itu berarti adinda tidak bersalah, sebaliknya jika air sungai ini berbau busuk itu tandanya hamba bersalah.” 

Sebelum keris itu menghujam ke perutnya, Dewi Surati melompat ke sungai lalu menghilang. Tewas tenggelam di dasar sungai. Akan tetapi saat itu juga tercium bau aroma yang sangat harum mewangi di sekitar sungai itu.  Raden Banterang berteriak dengan suara gemetar, 

     “Banyuwangi…!Banyuwangi…! Istriku ternyata tidak berdosa…istriku tidak berdosa!”

“Banyuwangi…!”  Teriak seorang pengemis dalam waktu yang hampir bersamaan.

“Hai, Raden Banterang! Aku adalah kakaknya. Istrimu Dewi Surati memang tidak berdosa. Ia menolak membantuku untuk membunuhmu. Banyuwangi itulah tanda cinta sucinya.” 
 
Setelah berkata demikian, pengemis itu pun menghilang. Raden Banterang menyesali perbuatannya. Mengapa ia terburu nafsu tanpa terlebih dahulu menyelidikinya dengan cermat. Ia sangat menyesali perbuatannya yang telah membuat maut kepada istrinya yang sangat dicintainya itu. Akan tetapi seperti pepatah bilang, menyesal pun tak berguna lagi. Sampai sekarang daerah tempat Dewi Surati menghilang dikenal dengan nama BANYUWANGI. Banyu berarti air dan Wangi berarti harum. Banyuwangi berarti air yang harum. (Referansi: MB. Rahimsyah, Cerita Rakyat Nusantara, CV. Beringin 55, Surakarta)