Tampilkan postingan dengan label SAJAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAJAK. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Desember 2012

Sajak: "SEMAR MEMBANGUN KAYANGAN" Oleh Rama Semar Madiun


Semar Membangun Kayangan - http://cigombong80.blogspot.com
SEMAR

“SEMAR MEMBANGUN KAYANGAN”
Oleh Rama Semar Madiun - Minggu, 11 Sept 2011

Telah datang Sang Fajar 
Sejuk nyaman sinar cahayanya
lemah lembut awal mula 
pengantar bahtera menuju istana
        di pulau cita-cita
         Nusantara jaya sakti
         Nusantara mercusuar dunia
        Nusantara mulya tiyasa

Titi mangsa jejering aksara Jawa Ra Ga Ra Ma
Kawiwitan malam purnama sidi wulan Sura
Raja Wali Sakti lahir malam  15 bulan Maret
Sineksenan munculnya Sang Batara Ismaya
di depan bulan purnama

Polahe wong Jawa kaya gabah diinteri
endi sing bener endi sing sejati
para tapa padha ora wani
padha wedi ngajarake piwulang adi
salah-salah anemani pati
banjir bandang ana ngendi-endi
gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni
gehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni marga wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti...

Tingkah laku orang Jawa seperti gabah ditampi
mana yang benar mana yang asli
para pertapa semua tak berani
takut menyampaikan ajaran benar
salah-salah dapat menemui ajal

Banjir bandang dimana-mana
gunung meletus tidak dinyana-nyana
tidak ada isyarat dan tanda-tanda
Benci terhadap pendeta
Bertapa, tanpa makan dan tidur
karena takut bakal terbongkar rahasianya
Siapa anda sebenarnya…

(Karya Seni Budaya Nusantara – http://cigombong80.blogspot.com)

Sajak: “CARMUK ITU CARI MUKA” Karya Slamet Priyadi ( Senin, 17 Desember 2012 )


Mr. Slamet Priyadi - “Karya Seni Budaya Nusantara” – http://cigombong80.blogspot.com
Slamet Priyadi (Foto: SP)

“Carmuk Itu Cari Muka”
Karya Slamet Priyadi
( Senin, 17 Desember 2012 )
                                                     
Adalah sudah kebiasaan prilaku manusia
 Suka dan gemar sekali cari muka
Sana-sini mencaci, sini-sana memuja
Di depan menjilat-jilat
Lidahnya bersulur bersilat
Ketika kepentingannya tak didapat
Ia pun melompat ba’ kutu loncat  
Janji ‘tuk loyal prasetia
Dengan puji dan puja
Dilupakan semua
Kesetiaan yang tersisa
Hanya kepentingan semata
Di belakang menista tiada henti
Cari kesalahan di sana-sini
Dengan alibi demokrasi
Bicaranya ceplas-ceplos
Tanpa isi, tanpa basa-basi
Asalkan senanglah di hati

(“Karya Seni Budaya Nusantara” – http://cigombong80.blogspot.com)


Minggu, 16 Desember 2012

"SAJAK BUKIT PARIGI" Karya Slamet Priyadi


Slamet Priyadi - http://cigombong80.blogspot.com
Mr Slamet Priyadi
“TAK PUNYA ETIKA DAN RASA MALU”
Karya Slamet Priyadi-Minggu, 16 Des. 2012

Meniti jalan setapak
Di kaki bukit Parigi
Saat cahaya Mentari pagi
Menelusup celah-celah daun bambu
Di simpang kelok jalan bertugu batu
Nampak dua ekor anjing berpadu Satu
Saling ungkapkan hasrat nafsu
Merasa terganggu atas kehadiranku
Keduanya menyalak keras ke arahku
 Seakan protes dan berkata
Wahai manusia…
Kami bukan sepertimu
Yang memiliki etika dan rasa malu
Jadi, silahkan lewati jalan ini
Jangan ganggu kenikmatan kami
Akupun segera berlalu…

Melewati gundukan semak-semak jalan setapak
Di balik rimbunnya daun bambu dan pohon salak
Nampak di sana,
Dua ekor kera jantan dan betina
Sedang ungkapkan hasrat senggama
Merasa terganggu atas kehadiranku
Keduanya, dengan wajah galak mata terbelalak
Menatap garang ke arahku
Seakan protes dan berkata,
Wahai manusia…
Kami bukan sepertimu
Yang memiliki etika dan rasa malu
Jadi, lewati jalan ini
Jangan ganggu kenikmatan kami
Akupun terus berlalu…

Tak terasa waktu berganti
Surya pagi pun semakin meninggi
Aku terus melangkah
Meniti jalan setapak di kaki bukit Parigi
Melewati kebun yang buahnya mulai ranum
Melewati pematang sawah
Yang padinya mulai menguning
Dua wanita jelita menyapa
Dengan tingkah menggoda
Yang mengundang hasrat jiwa
Wahai tuan…
Kami tahu, tentu tuan seperti yang lain
Mampirlah di kedai kami
Ada kopi kehangatan
Sesuai selera dan rasa yang tuan inginkan
Akupun terus berlalu…

Ketika peluh membasahi seluruh tubuh
Ketika rasa lelah mulai mengeluh
Aku putuskan untuk henti berjalan
Rehat, istirahat kembali segarkan badan
Segera aku hampiri kedai di ujung jalan
Pesan secangkir kopi dan setatakan gorengan
Dengan lemah gemulai dan kemayu
Perempuan kedai itu buatkan kopi pesananku
Sambil tawarkan hasrat tak malu-malu
Wahai tuan…
Tadi ada tiga orang dari kota sama seperti tuan
Dan, sekarang pun masih di dalam
Biasa tuan, cari belai-belai kehangatan
Apakah tuan juga berkeinginan sama seperti mereka?
Ucap perempuan itu sambil tertawa cekikikan
Segera aku bayar secangkir kopi dan gorengan
Tak perlu etika dan kata-kata terucapkan
Sambil berkata dalam hati
“Benar-benar tak punya etika dan rasa malu”
Segera, akupun  berlalu dari kedai itu
..........................................

             "Karya Seni Budaya Nusantara"                        ( http://cigombong80.blogspot.com )




 





Jumat, 07 Desember 2012

SAJAK RAJAWALI Oleh Rendra



WS Rendra - http://cigombong80.blogspot.com
WS RENDRA
Sajak Rajawali

Sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah Rajawali
menjadi seekor burung nuri

Rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
Rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

Langit tanpa Rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh Rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
Rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana

Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka