WARTA DARI GOOGLE

Loading...

Sabtu, 25 Oktober 2014

Senin, 06 Oktober 2014

"THEATER DUA"



Teater Dua Pentaskan Adaptasi Karya Oscar Wilde di GKJ
Jumat, 26 September 2014 | 20:23 WIB
Teater Dua Teater Dua

JAKARTA, KOMPAS.com - Teater Dua berencana mementaskan seni teater yang diadaptasi dari naskah Oscar Wilde, yaitu Lady Windermere's Fan, di Gedung Kesenian Jakarta pada 31 Oktober dan 2 November 2014. Pentas berjudul "Kipas Tanda Mata" ini diperankan oleh para alumni Teater Putri Santa Ursula.

Produser Pentas "Kipas Tanda Mata", Maria Pade Rohana, mengatakan, pentas ini mengangkat kisah para sosialita di kawasan elit Menteng, Jakarta, yang memiliki aturan tak tertulis dan norma sosialnya sendiri.

Kisah ini bercerita soal ketidakharmonisan rumah tangga pasangan Tuan dan Nyonya Singgih. Rumah tangga mereka terganggu oleh Nyonya Surya, sosok rupawan dan misterius. Wanita ini pun menjadi bahan pembicaraan di antara kalangan elit Jakarta.

"Nyonya Singgih mencurigai suaminya bermain dengan Nyonya Surya. Tuan Singgih akan merayakan pesta ulang tahun besar-besaran dan Nyonya Surya diundang. Kicau-kicau kabar burung menambah seru percakapan di pesta. Apakah yang sesungguhnya terjadi? Hanya dengan menyaksikan sampai akhir, kebenaran akan tersingkap," cerita Maria.

Maria mengatakan, naskah Oscar Wilde pada 1892 ini masih relevan hingga kini. Perempuan, yang menolak diberi label, tetap menerima banyak label.

"Perempuan kerap berprasangka terhadap perempuan lain. Perempuan pada 1892 bernasib mirip dengan kaumnya pada 2014. Dalam beberapa hal, perempuan masih terjajah. Mereka harus bekerja keras, menghadapi standar ganda, menerima perlakuan tidak setara dengan laki-laki, kalah dalam transaksi kekuasaan, sembari berusaha memaknai hidupnya," kata Maria.

Latar Belakang Teater Dua

Pemain Teater Dua adalah alumni Teater Putri Santa Ursula. Salah satu keunikannya, seluruh pemainnya adalah perempuan. Para anggotanya mulai dari mahasiswa, pembawa acara televisi, produser musik dan disc jockey, pengacara, ibu rumah tangga, akuntan, penjaga taman bacaan, konsultan, dan lainnya.

Maria menjanjikan, Teater Dua, yang berkomitmen memajukan seni peran, akan membawa kesegaran tersendiri di komunitas seni Indonesia.

"Kami sungguh bangga dengan akar kami sebagai teater perempuan. Kami membuktikan bahwa seni teater yang penuh tuntutan bisa dikerjakan oleh perempuan dengan kualitas tinggi, meski harus berbagi waktu dengan keluarga, teman, kuliah/kerja, dan kegiatan sosial lainnya," kata Maria.

Informasi lebih lanjut mengenai Teater Dua, silakan hubungi Maria Pade Rohana di maria.pade@gmail.com, atau melalui Facebook dan Twitter.

Sabtu, 27 September 2014

Minggu, 22 Juni 2014

Akulturasi Budaya Cirebon dan Priangan


Event Festival Seni Tari, Musik dan Teater
 
Tari Doger Pesisir
Sabtu, 21 Juni 2014 14:28 WIB - CIREBON,(GM).-PENAMPILAN tim kesenian Kabupaten Cirebon yang menampilkan tarian "Doger Pesisir" menjadi pembeda pada pasanggiri Seni Tari, Musik dan Teather di wayah Cirebon, Sabtu (21/6/14). Gerakan tarian hasil kolaborasi tarian khas pantura dengan jaipongan menjadikan tarian ini enak ditonton.

Bukan hanya itu dari sisi gamelan pun, akuluturasi dua budaya ini begitu kental. Nuansa Cirebonan sangat terasa dri suling dan gamelan salendro. Sementara nuansa Priangan terdemgar dari tepakan-tepakan kendang yang gahar dan dinamis. Dengan akulturasi dua budaya ini semakin memperjelas kekayaan seni budaya tradisional Jawa Barat.

Lima penari perempuan itu, bergerak lincah penuh energik. Terlebih saat mereka mengenakan topeng atau kedok dengan berbagai macam karakter. Tarian ini menggambarkan kehidupan masyarakat pantai utara (pantura) yang membutuhkan hiburan-hiburan disaat melepas lelah sepulang melaut. Bentuk topeng yang dipakai para penari mewarnai intensitas gerak tari erotis, gahar, lincah, lucu dan menghibur. Suasana seperti itulah yang dibutuhkan para nelayan dan masyarakat pesisir untuk menghilangkan kejenuhan. Mereka membutuhkan hiburan, karena hampir sepanjang tahun tidak ada hiburan.


Beda lagi dengan tim kesenian Kota Cirebon, yang menampilkan seni tari Murtasia. Sebuah tarian yang menggambarkan kesetiaan dan pengabdian tanpa batas dan kendali demi kebahagiaan. Murtasia rela mengorbankan dirinya, mesti itu dengan jalan salah.

Kolaborasi gerakan tari antara Priangan dan Cirebon jelas terlihat, namun semua itu tidak menjadikan tarian itu hambar. Pengenaan kacamata hitam oleh para penari, merupakan bagian tak terpisahkan dari seni kota Cirebon. Biasanya, penggunaan kacamata hitam sering dilakukan pada seni sintren, terutama oleh si penari.
Sebelumnya tampil pula tari Darma Ayu dari Kab. Indramayu yang menggambarkan keberanian Nyi Mas Endang Darma melawan kesewenangan. Sehingga beliau menjadi panutan dan inspirasi masyarakat Indramayu.

Tari Ronggeng Ujungan dari Kabupaten Majalengka, dan tari Sang Adipati dari Kab. Kuningan. Ketokohan Adipati yang merupakan putra Syeh Syarif Hidayatullah dan Putri Ong Tien sengaja diangkat dalam herak tari rudat, silat dan tari rakyat.

Selain seni tari, ditampilkan seni musik atau karawitan dari setiap daerah sewilayah III Cirebon yang berlatar belakang seni rakyat setempat. Tak heran jika seni karawitan ini lebih dinamis, karena hampir semua alat musik tradisional maupun modern setempat ditampilkan sehingga memunculkan seni karawitan kekinian.

Hampir sebagian besar para nayaga yang tampil dari masing-masing daerah masih berusia muda. Sehingga musik yang dihasilkan pun lebih energik tanpa menghilangkan nuansa daerahnya masing-masing. Namun sayang, festival seni, tari, musik dan teater ini digelar di balroom sebuah hotel ternama di Kota Cirebon, sehingga kurang mendapoat apresiasi dari masyarakat setempat. Masyarakat enggan untuk masuk menyaksikan festival yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar ini. Ruang pertunjukan hanya dipenuhi oleh komunitas seni dari masing-masing peserta untuk saling dukung.


Padahal di wilayah III Cirebon ini, banyak ruang publik dan terbuka yang bisa digunakan festival seperti ini. Disini perlunya koordinasi antara dinas terkait di tingkat provinsi dengan tingkat kabupaten kota.

Terlepas itu semua, peserta yang terbaik di wilayah Cirebon ini akan ditandingkan dengan pemenang dari wilayah lain pada puncak de syukron hari jadi ke-69 Pemprov Jabar di pelataran halaman Gedung Sate Bandung, 19 Agustus mendatang.

Menurut Kepala Bidang Kesenian, Dinas Paariwisata dan Kebudayaan Jabar, Sajidin Aries, dari festival ini muncul inovasi dan kreasi seni tari, musik dan teater dari masing-masing daerah. Tidak hanya itu, banyak bermunculan pula para kerator, inovator, dan koreografer muda.

"Ini yang kami harapkan, sehingga ke depan dinamika seni budaya Jabar semakin berkembang," katanya. 
(kur)

Minggu, 08 Juni 2014

DIMANAKAH HUJRAH RASULULLAH ?

Seni Budaya Nusantara - Sabtu, 08 Juni 2014 - 20:06 wib
Hujrah Nabi Sekarang
DIMANAKAH HUJRAH RASULULLAH?

Slamet Priyadi
 
Di manakah hujrah tempat Nabi
Hidup dengan segala kesederhanaan diri?
Di manakah hujrah tempat Nabi
Sering menerima wahyu dari Ilahi Rabbi?
Di manakah gerangan tempat Nabi?
Berfikir dan selalu merenung diri
Mengatur siasat dan muslihat
Untuk kebahagiaan umat
Dari dunia hingga sampai akhirat

Di manakah gerangan pintu hujrahnya?
Yang senantiasa terbuka bagi fakir miskin papa
Di manakah tempat Nabi makan bersama khadamnya?
Di manakah gerangan tempat Nabi?
Menambal gamis dan terompanya yang robek terkikis
Di manakah gerangan lapik Nabi?
Tempat tidur bebaring saat susah,senang dan sakit
Di manakah dapur Nabi yang pernah tak berasap?

Di manakah jenazah Nabi dibaringkan?
Saat kaum muslimin tua, muda, laki dan perempuan
Baris berjejer ucapkan selamat perpisahan
Dengan air mata yang bercucuran
Di mana...? Di mana...? dan di mana...?

Sekarang tempat bersejarah itu sudah lenyap
Hujrahnya yang asli sudah tak ada lagi  
Dan tak mungkin lagi bisa dijumpai
Berganti dengan hujrah yang penuh kemewahan
Yang berhias emas, bertahtakan mutu manikam
Tak ada lagi wajah kesederhanaan
Seperti yang diajarkan Muhammad Nabi akhir zaman
Dalam doanya beliau memohon kepada Tuhan
“Ya, Allah! Janganlah jadikan kuburku
Sebagai berhala yang disembah orang.”

Sungguhlah besar artinya
Sungguhlah mendalam maknanya
Andaikan semua itu masih ada
Dipelihara seperti semula
Dapat dilihat dan dikenang sepanjang masa
Oleh setiap umat Islam yang menziarahinya


Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 08 Jun. 2014 – 14:56 wib