Selasa, 12 Juli 2016

ONDEL-ONDEL BETAWI SEMARAKKAN LEBARAN DI KAMPUNG KRAMAT ASEM UTANKAYU SELATANBy Drs. Slamet Priyadi

Blog Ki Slamet: Seni Budaya Nusantara
Rabu, 13 Juli 2016 - 13:29 WIB

Sore itu Sabtu, 09 Juli 2016 sekitar pukul 16:00 WIB di Kp. Kramat Asem, Utankayu Selatan terdengar gesekan instrumen musik rebab yang melengking keras dan seperangkat instrumen perkusi kecrek, kenong, dan kendang memainkan lagu-lagu gambang kromong. Beberapa di antaranya adalah Jali-Jali, Sirih Kuning, dan Ondel-Ondel dari album lawas Ida Royani-Benyamin Sueb.

Rupanya lagu-lagu tersebut dimainkan oleh skelompok pengamen muda belia berusia belasan tahun, mengiringi tarian sepasang ondel-ondel Betawi yang bergoyang, berbutar-putar di sepanjang jalan dan gang sempit di tengah padatnya perumahan penduduk yang dilaluinya.

Persis, ketika rombongan pengamen onde-ondel itu lewat di depan rumah Almarhum bapak Aspas, tempat singgah kami sekeluarga lebaran Idul Fitri 1437 Hijriah, di halaman rumah yang tak begitu luas, rombongan pengamen itu berhenti.

Tak berapa lama kemudian rombongan pengamen ondel-ondel itu kembali memainkan musik Betawi irama gambang kromong dengan lagu-lagu khasnya yang sudah tak asing lagi bagi warga  Kampung Kramat Asem, Utankayu Selatan yang memang mayoritas penghuninya adalah masyarakat Betawi.

Sepasang ondel-ondel Betawi kembali menari-nari, berputar-putar, berjalan lenggak-lenggok kian kemari mengikuti irama lagu dan iringan musik pengiring yang mengalun mendayu-dayu, merayu-rayu penuh kemayu.  

Sementara musik dan ondel-ondel terus beraksi, salah seorang rombongan pengamen berkeliling mengajak penonton yang kebanyakan anak-anak dan ibu rumah tangga untuk memberi uang saweran.

Karena tak banyak anak-anak dan ibu-ibu penonton yang berpartisipasi memberi uang saweran,
aku bertanya kepadanya:

“Oya, mong-omong kalo satu lagu berapa uang sawernya?”
“Lima ribu rupiah, pak!” jawabnya singkat.
“Baik, kalo begitu saya pesan lima lagu, ya!”

Aku pun segera ambil uang dari saku baju Rp.10.000 dan minta pula pada isteri dan saudara iparku yang ikut menonton hingga terkumpul semuanya sebanyak Rp.25.000 lalu serahkan ke padanya. Meski nilai uang itu relatif tak seberapa untuk sebuah apresiasi musik, namun ada keceriaan nampak pada wajah rombongan pengamen Ondel-ondel, karena tujuan mereka mengamen lewat kesenian Ondel-Ondel Betawi, semata-mata adalah untuk melestarikan budaya Betawi, khususnya kesenian Ondel-Ondel yang kini sudah mulai ditinggalkan oleh banyak generasi muda Betawi itu sendiri.

Kramat Asem, Utankayu Selatan
Sabtu, 09 Juli 2016 – 22 : 15 WIB


Rabu, 30 Maret 2016

KAKAWIN BHARATAYUDA PUPUH XXIX (16–19) MATINYA DURSASANA

Blog Ki Slamet : Seni Budaya Nusantara
Rabu, 30 Maret 2016 - 20:10 WIB
 
BIMA BUNUH DURSASANA

KAKAWIN BHARATAYUDA
PUPUH XXIX ( 16 – 19 )
MATINYA DURSASANA

TRANSKRIPSI
TERJEMAHAN BEBAS
16
Payodâbâng dening rawi samanirâpan.
Gunung mumbul nghing tarkka ri sira atindakguragadda.
Têhêr munnddonnddekang ҫawa saha wuwus lwir gêrêh ahöm.
Harah mah rowangmu lingira dumuk ҫri Kurupati.
16
Mukanya yang penuh dengan darah itu bisa dinamakan dengan mega merah yang terkena sinar matahari. Bhima yang berjalan dengan angkuhnya bisa disamakan dengan gunung yang menjulang tinggi. Dia melempar-lempar mayat Dursasana ke atas seraya berucap kata seperti suara guruh: “inilah pembantumu, bah!” sambil melempar mayat Dursasana ke arah Suyudana.

17
Samangkâlahning Korawabala larut wrin-wrin atakut.
Tinût ginyat mwang Sûryyatanaya murud len para ratu.
Parêng lâwanlinnddû patêr anila lilângghana rêmêng.
Kêtug rêm-rêm tejâguling awênês ing dik saha tatut.

17
Tentara Kurawa menderita kekalahan. Mereka melarikan diri dengan hati yang kecut ketakutan, dikejar-kejar dan didesak mmundur, sedangkan Karna, putra dewa Surya bersama dengan raja-raja lainnya juga turut mundur. Peristiwa ini berbarengan dengan terjadinya gempa bumi, guruh  menggelegar bersambungan disertai menggumpalnya mega hitam sehingga sinar Surya terhalang dan angkasa menjadi gelap remang-remang.

18
Umundur Pârtha mwang rathanira mareng Dharmmatanaya.
Lawan Bhimaprâptâddarat aguyu sahyâҫrama gadâ.
Sinungsung de ҫri Dharmmasuta ring ujar sasmita rêsêp.
Sênâhâkweh sâmpun sumaji panginum wwai saha phala.

18
Arjuna dengan keretanya mendekati tempat Yudhistira. Sedangkan Bhima melangkah dengan gagahnya sambil tertawa-tawa memainkan dan memutar-mutar, melempar-lemparkan gadanya dengan indahnya. Mereka disambut oleh Yudhistira dengan tegur sapa dan senyuman yang manis dan ramah. Mereka disambut dengan segala persiapan yang matang diantaranya penyajian minuman dan buah-buahan.

19
Rikâ nyagrodâgöng kahananira wâhwângucap-ucap.
Tuminghal ring pekâҫwa murud akweh wijah angöb.
Sang aprang warnnâgya silih ayun angel jrih kapanasan.
Kêlabning têngran manglurugi tinenger mwang layu-layu.
19
Mereka mengambil posisi tepat di bawah pohon beringin besar dan rimbun. Di sana mereka bercakap-cakap sambil melihat para prajurit baik prajurit maupun prajurit gajah yang telah kembali dengan jumlah yang besar penuh dengan perasaan riang gembira. Mereka yang telah selesai menunaikan tugas di medan pertempuran dengan mendapatkan kemenangan nampak berebutan  untuk berjalan di depan. Hal tersebut dilakukan dalam upayanya menghindari teriknya sinar matahari. Mereka mengarahkan pandangannya ke arah bendera yang sedang melambai-lambai sebagai pedoman. Sedangkan mata mereka diarahakan pada bendera kecil milik mereka masing-masing.



Pustaka :
Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparto
Kakawin Bharata-Yuddha, Bhratara – Jakarta 1968

Bumi Pangarakan, Bogor
rabu, 30 Maret 2016 – 19:46 WIB

Senin, 28 Maret 2016

KAKAWIN BHARATAYUDA PUPUH XXIX ( 6 – 10 ) "MATINYA DURSASANA"

Blog Ki Slamet : Seni Budaya Nusantara
Selasa, 29 Maret 2016 - 06:41 WIB
 
Bima menginjak-injak tubuh Dursasana


“KAKAWIN BHARATAYUDA”
PUPUH XXIX ( 6 – 10 )
MATINYA DURSASANA

TRANSKRIPSI
TERJEMAHAN BEBAS
6
Prayatna dyah Duҫҫasana marêk amêntang laras agöng.
Mahâҫaktya ng hrû bhallaҫara dumilah ighra lumêpas.
Tibâ kântêp Bâywâtmaja wawang udhânyâwungu malês.
Rikâ dwandwa krodha n silih irup amet cidra kumutung.

6
Dursasana maju ke depan dengan waspada sambil menggenggam panah besar bernama, “bhalla”. Panah sakti itu berterbangan melesat dengan cepat dengan memancarkan api. Bima, putra Bayu terjatuh dengan kerasnya, namun ia cepat sadar akan dirinya. Ia pun segera berdiri untuk mengadakan serangan balasan. Terjadi terjadilah perang tanding antara Bima dan Dursasana. Dengan sengitnya mereka berdua saling mendesak dan berupaya menggunakan cara-cara curang. Sementara di sekeliling pertempuran itu debu-debu berhamburan.

7
Paddâtyanteng ҫûrânuju dhira n lêkasira.
Parêng punggêl tang capa muwah angalap langkap inayat.
Rikân tandang Bhimânudung marêk angdhik saha gadâ.
Têhêr mojar tan jrih pinamah anikêp hrû tan atakut.
7
Keduanya sama gagah dan dalam upaya mereka untuk saling menyerang, mereka memperlihatkan sikap yang tetap dalam hati. Panah-panah keduanya telah patah, lalu mereka kembali saling menembakkan panah-panah yang lainnya. Selanjutnya Bima kembali menyerang Dursasana sambil mengarahkan telunjuk kirinya ke arah Dursasana dan berkata:
  
8
Addâ ko ng wök Duҫcâsana eêmêr amangpang ryyaku harah.
Lêwês nohanku n kon katemu wunuhêngkweng pabharatan.
Harah panglampû nâ lingira ddatêng angjug-jug amupuh.
Sudhirânghrûk ҫigrân têka sumuyug anglumpati gajah.

8
“Bah! Kau memang babi kotor, Dursasana, berani-beraninya kau menghadapiku! Tapi aku suka dapat berjumpa dengan kau karena aku akan membunuhmu secepatnya dalam medan pertempuran ini”. Bima pun segera menghampiri Dursasana, menyerangnya dengan melompat dari gajah yang ditungganginya.
 
9
Prayatna dyah Duҫҫâsana tuhun ikang syandana rênuh.
Malês mangduk ring tomara têhêr aҫabdâ nguman-uman.
Aho dâsangkwâminggat iki mangiwung wehi ya têdda.
Asênghit nguni atrinya si jalirikâ meh kajamaha.
9
Dursasana memang telah mewaspadai serangan Bima itu, ia pun cepat menghindari serangan Bima. Ia selamat namun kereta perangnya hancur. Dursasana pun membalas serangan Bima dengan melempar tombaknya ke arah Bima sambil berkata: “Wahai, inilah budakku yang telah minggat! Berikan kepadanya makanan, dulu aku hampir saja menjamah istrinya yang jalang itu!”
10
Nahan tojar Duҫҫâsana wahu lumumpat katututan.
Jinambak mâmrêp mangdugang alata lâginingêlakên.
Mukêmö bêntar lot hinala-hala tan pantara timur.
Malês mangrangsang rimerengakên mamrih atahêr.

10
Demikian ucapan Dursasana. Ia cepat melarikan diri, namun Bima dapat menangkapnya dengan menjambak rambutnya. Dursasana masih dapat memukul ke kiri dan ke kanan dengan tangannya dan menendang Bima dengan kakinya tanpa bisa mengenai tubuh Bima. Seketika Bima menginjak-injak wajah dan badan Dursasana, sehingga wajah dan badannya itu memar dan bengkak-bengkak. Dursasana berupaya membalas sekuat tenaga, tapi Bima terus menginjak menahan badan Dursasana yang terus berupaya bertahan. 



Pustaka :
Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparto
Kakawin Bharata-Yuddha, Bhratara – Jakarta 1968

Bumi Pangarakan, Bogor
Senin, 29 Maret 2016 – 06:43 WIB