Sabtu, 19 Januari 2013

Mencari Pemimpin Beretika Lewat Wayang Beber



Tribunnews.com - Minggu, 13 Januari 2013 03:22 WIB
Pentas Wayang Beber di Rawamangun
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kisah ini berangkat dari sebuah negeri bernama Negeri Beber. Negeri Beber adalah negeri yang panjang, pasir awukir, gemah ripah loh jinawi, tata tenteram, kerta raharja. Dalam perjalanan sang waktu, negeri beber justru berubah menjadi negeri yang sangat gaduh.
 
Mengangkat budaya luhur yang dimiliki Bangsa Indonesia, Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah Indonesia) bersama komunitas Hindu, antara lain KPSHD Rawamangun, Sekolah Tinggi Agama Hindu Jakarta, Paguyuban Majapahit, menggelar Wayang Beber besutan Komunitas Wayang Beber Metropolitan.

Wayang Beber digelar bertepatan dengan pelaksanaan Hari Raya Saraswati, atau peringatan turunnya ilmu pengetahuan yang jatuh pada 12 Januari 2013, bertempat di Pura Aditya Jaya Rawamangun, Jakarta Timur. Pagelarannya berlangsung tengah malam, atau bertepatan dengan malam sastra yang biasa diisi dengan penggalian dan diskusi ajaran suci Weda.

Menurut Putu Aditya, koordinator penyelenggaraan acara, perpaduan malam sastra dengan Wayang Beber merupakan salah satu metode dalam memahami ajaran suci dalam Weda.
“Kami berharap dengan adanya media Wayang Beber, ajaran dan pengetahuan suci Weda dapat lebih mudah dipahami,” ujarnya.

Adanya media ini, lanjut Putu, peserta dapat lebih berinteraksi memadukan rasa dan pikiran, dalam pertunjukan yang sarat dengan ajaran-ajaran luhur, baik dalam kitab suci Weda maupun budaya bangsa.
Lakon dalam pagelaran Wayang Beber mengangkat cerita sesuai konteks kehidupan hari ini. Mengambil semangat perilaku dan etika dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, tercetuslah lakon 'Laku Budhi Suluh Nagari' atau Labusuri. Lakon ini dilandasi semangat, bahwa hanya dengan perilaku dan etika yang baik lah, sang pemimpin (tokoh masyarakat/bangsa) dapat menjadi panutan (pelita) bagi komunitas atau masyarakat.

Dalam pagelaran Wayang Beber, sang dalang juga ditemani oleh dua narasumber, yaitu Dewa Ketut Suratnaya dan Eko Priyanto. Kedua narasumber mengambil intisari atau benang merah dari lakon Wayang Beber, ke dalam konteks kehidupan dan ajaran suci Weda. Peserta yang sekaligus menjadi penonton, juga dapat langsung berinteraksi dengan dalang maupun narasumber. 

“Interaksi langsung inilah yang menghilangkan sekat-sekat formal pertunjukan, sekaligus diskusi monolog. Peserta bisa langsung bertanya ataupun menyela sang dalang dan narasumber,” tutur Aditya yang juga Ketua DPN Peradah. Pagelaran Wayan Beber di malam sastra juga memadukan teknologi moderen yang ditunjukkan dengan paduan audio visual. Di tengah sang dalang menceritakan lakonnya, suasana semakin hidup ketika audio visual ‘ditabrakkan’ ke arah Wayang Beber yang dimainkan dalang. 
 
“Suasana akan semakin hidup, dan peserta pun dapat masuk dalam alur cerita secara baik,” harap Ananta Wijaya yang memadukan kehadiran audio visual. Perpaduan audio visual juga seolah melengkapi kesederhanaan perlengkapan dari Wayang Beber, yang tidak membutuhkan begitu banyak alat-alat seperti pertunjukan wayang lainnya. Didukung oleh kru muda, Wayang Beber Metropolitan menjadi suluh di tengah derasnya arus yang menerpa budaya-budaya lokal milik bangsa. (*)

Editor: Yaspen Martinus

Jumat, 18 Januari 2013

Serat Wedhatama (SINOM) KGPA Sri Mangkunegoro IV



KGPA Sri Mangkunegoro IV
“KARYA SENI BUDAYA NUSANTARA”
Slamet Priyadi | Jumat, 18/01/2013 | 23:45 WIB 


Mulane wong anom sami.
Nulada laku utama
Tumrape wong Tanah jawi,
Wong agung ing Ngeksiganda,
Panembahan Senopati,
Kepati amarsudi,
Sudane hawa lan nepsu,
Pinepsu tapa brata,
Tanapi ing siyang ratri,
Amamangun karyenak tyasing sesama.

Samangsane pasamuan, mamangun marta martani,
Sinambi ing saben mangsa,
Kala kalaning asepi,
Lelana teki-teki,
Nggayuh geyonganing kayun,
Kayungyun eninging tyas,
Sanityasa pinrihatin,
Puguh panggah cegah dhahar lawan nendra.

Saben mendra saking wisma,
Lelana lalading sepi,
Ngingsep sepuhing supana,
Mrih pana pranaweng kapti,
Tis tising tyas marsudi,
Mardawaning budya tulus,
Mesu reh kasudarman,
Neng tepining jalanidhi,
Sruning brata kataman wahyu dyatmika.


Notariat Collegium


Oleh karena itu wahai orang muda Contohlah perilaku utama,
bagi kalangan orang Jawa,
orang besar dari Ngeksiganda,
Panembahan Senopati,
yang tekun, mengurangi hawa nafsu, dengan jalan prihatin bertapa,
serta siang malam
selalu berkarya membuat hati tenteram bagi sesama

Dalam setiap pergaulan,
membangun sikap tahu diri.
Setiap ada kesempatan,
Di saat waktu longgar,
mengembara untuk bertapa,
menggapai cita-cita hati,
hanyut dalam keheningan kalbu.
Senantiasa menjaga hati untuk prihatin
dengan tekad kuat, membatasi  makan dan tidur.

Setiap mengembara meninggalkan rumah
berkelana ke tempat yang sunyi menghirup  tingginya ilmu,
agar jelas apa yang menjadi tujuan sejati.
Hati bertekad selalu berusaha dengan tekun,
memperdayakan akal budi
menghayati cinta kasih,
ditepinya samudra.
Kuatnya bertapa diterimalah wahyu dyatmika

Rabu, 16 Januari 2013

Puisi-puisi Fahrul Satria Nugraha



Kamis, 17 Januari 2013 | 01:16 WIB

Ilustrasi google.com
Sajak penimbang

kemudian aku tertegun pada ribuan sajak yang menyemai dipagi hari ;
tentang embun, tentang kabut dan wajah-wajah yang basah sebelum waktunya.
adakah nyanyian gerimis yang menyertai dalam peleraian ini.
semacam sesaji yang kau tanam pada lubang kendi  diatas rerumput kering itu.
ketika langit berseru atas apa yang kau lisankan,
embun menyelimutinya, membungkus perhelai rambut yang merimbuni tubuhmu
dalam dentang jantung dan biji-biji besi yang menggatung pada sebilah ranting
dengan corong dan watak yang mengerucut
sebuah kidung yang muncul dari pelepah pisang, merindangi gundah bersayup jenaka
meringislah muka dalam wadah berlapis kuningan
karena fajar telah menantinya diujung barzah.
Lembang, 2012

Sajak gadis gunung dan bukit-bukit telanjang

setangkai angin telah datang menemuiku pada musim-musim kering
membawa berita tentang langit ; tentang gadis gunung dan bukit-bukit telanjang
seperti bulan.
sajak-sajaku adalah jangkrik yang mengerik  ;
meniduri rerimbun lara yang menancapi paras sunyimu.
wahai gadis berwangi melati.
pipimu adalah lesung penantian lelaki
bibirmu serupa lisan-lisan surgawi
seikat kembang akan kuselipkan pada celah-celah tubuhmu
pada malam yang mewangi setelah senja
kemudian  ketika embun menertawai kita
gerai rambutmu kian kusut.
dan tersingkaplah guguran mimpi
dalam sajak
gadis gunung dan bukit-bukit telanjang
Bumi Siliwangi, 2012

Temui aku di barrety

kemanakah rindu yang menyemut di ruang merah ini, yang merekahkan lisan ketika itu, diantara atap, di diatas pohon yang menggatungkan kasayuan wajahmu. dimanakah ?
sedangkan aku kian mencarimu, di ladang ini. ketika enggan kau sukai  tentang  perumpamaan ilalang atau risaumu pada senja yang kau benci dalam sajak-sajaku.
kemarilah seperti dulu, saat ketika tubuh kita merebah di pohon alpukat ini, membincangi hujan. Sungguh, ketika itu wajahmu seperti lampu-lampu taman, dan aku semakin hening dengan dongengmu tentang riwayat seekor kunang-kunang.
dikolam ini, dalam rerindang yang sunyi dengan buah-buah beringin yang berjatuhan, temui aku di taman barrety. datanglah dengan payung dan gaun putih  yang berenda, agar aku yakin akan syairmu; tentang  hidup dan sebuah kematian.
Isola, 2012

Fahrul Satria Nugraha. Lahir di Bandung, 21 November 1992. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Senirupa Universitas Pendidikan Indonesia. Penikmat seni dan aktif mengikuti berbagai kegiatan di bidang seni sastra dan rupa. Bergiat di Himpunan Mahasiswa Seni Rupa Upi sebagai Ketua Angkatan Senirupa UPI Tahun Angkatan 2011. Beberapa karya berupa puisi, dan drawingnya telah dimuat di media masa, baik nasional maupun daerah. Dibidang kesenirupaan, bergiat aktif dalam penyelenggaraan kegiatan yang berhubungan dengan seni rupa.

Email: fahrul.satria@gmail.com
Facebook: Fahrul Satria N
Tumblr : fahrulsatrian.tumblr.com/
Twitter : Rullzcreator
Editor :
Jodhi Yudono