Jumat, 27 Februari 2015

Seni Budaya Luar Kerap Dipandang Lebih Baik dari Seni Tradisi

RETNO HY/"PRLM"
Tari Yudharini yang berceritakan tentang Srikandi tengah berlatih perang salah satu tari kreasi yang ditampilkan pada Uji Kompetensi Jurusan Tari SMKN 10 Bandung bertempat di Auditorium SMKN 10 Jalan Cijawura Hilir, Senin (23/2/2015).*

BANDUNG, (PRLM).- Kekayaan seni budaya tradisi Jawa Barat diakui sebagai potensi kekayaan dan bagian dari masyarakatnya tapi terus mengalami kemunduran. Pengembangan seni budaya tradisi dengan berpijak pada akar dan nilai tradisi akan lebih mendapat tempat dan dihargai ketimbang seni kreasi baru.
Generasi muda dan bahkan kreator seni, diungkapkan Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman Direktorat Kemendikbud Prof. Endang Catur Wati, selalu memandang karya seni budaya dari luar lebih baik. “Mereka kurang menyadari bahwa keragaman seni budaya tradisi yang kita miliki juga sangat kaya akan nilai dan bahkan tidak kalah gerak kreasinya dengan seni budaya dari luar,” ujar Endang, dalam paparannya di auditorium SMKN 10 Bandung, Senin (23/2/2015).
Seni budaya yang berakar dari tradisi menurut Endang, belum sepenuhnya dilirik dan digarap dengan serius oleh kreator seni budaya. Akibat belum mendapat sentuhan, seni budaya yang berasal dari tradisi seringkali dipandang sebagai seni budaya kurang dan bahkan tidak mengikuti perkembangan jaman.
“Padahal bila seni budaya yang berakar dari tradisi kembali dikemas dan dikreasi dengan kondisi kekinian, nilainya tidak jauh berbeda dengan seni budaya dari luar. Bahkan dalam hal gerak dan tata busana lebih menarik dan esotik, tinggal mendapat sentuhan tata panggung dengan tata cahaya dan tata suara, pasti akan mampu memiliki nilai jual,”ujar. Endang. (retno heriyanto/A-88)***

Kamis, 05 Februari 2015

“PERISTIWA SEPULANG KERJA” By Slamet Priyadi

Ular konra tanah sembunyi di lubang selokan (Foto: SP)
Ular kobra tanah sembunyi di lubang selokan
“PERISTIWA SEPULANG KERJA”
By Slamet Priyadi
Saat pulang kerja pada hari Senin, tanggal dua bulan Febuari
Tepat pada pukul lima tiga puluh lima sore jelang petang hari
persis di muka rumahku Kp Pangarakan daerah Bogor Ciawi
Saat Matahari Senja benamkan diri sembunyi di balik Pertiwi
Motor ojek langganan yang biasa aku tumpangi pun berhenti
Kuambil uang limaribuan dari saku baju kemeja seragam biru
Lalu  kuberikan pada ojek langganan yang tersipu malu-malu
Akupun masuklah  ke dalam rumah duduk di bangku bambu
Sambil reguk seteguk kopi hangat yang baru dibuatkan istriku
Aku lepas segala lelah segarkan kepenatan yang mengganggu
Baru sepuluh menit nikmati kopi hangat, aku dengar dan lihat
Di depan rumah orang-orang pada berteriak pating mencelat,
“Aya oray tanah, aya oray kobra, hayu paehan, hayu paehan!”
Aku segera lari lompat ke luar rumah turut ikutan melihat-lihat
Hand phoneku yang ada di lopa ikat pinggang aku pegang kuat
Dalam selokan yang berair keruh ular hitam kencang  menjalar
Terus dikejar dipukuli, dipentungi, digetoki dengan kayu galar
Ular kobra tanah besar tak berdaya sakit menggelepar-gelepar
Menoba bersembunyi di balik batu besar tubuhnya melingkar
Tetapi akhirnya ular itu terkapar kepalanya pecah kemepyar
Kamis, 05 Februari 2015-21:21 WIB
Slamet Priyadi
Di Kp. Pangarakan, Bogor

Denmas Priyadi Blog: "INILAH KARYAKU": “PERISTIWA SEPULANG KERJA” By Slamet Priyadi: Ular kobra menjalar di selokan “PERISTIWA SEPULANG KERJA” By Slamet Priyadi Saat pulang kerja pada hari Senin, tanggal d...

Minggu, 01 Februari 2015

"PUISI KENANGAN SLAMET PRIYADI"

"KENANGAN CINTA YANG TERSISA"
Karya: Denmas Priyadi
Ku kuak juga kenangan ini meskipun terasa sakit
Lewat baris  kata-kata nan bersahaja puisi berbait
Saat kita berdua  berjalan di pinggiran parit keruh
Di Angkasa Puri tahun sembilan belas tujuh tujuh
Dan,  jari  jemari  kita saling menggamit erat kukuh
Tiada kata-kata yang terucap ataupun tegur sapa
Hanyalah  tatapan  mata  dan hati  kita lirih bicara
Bercerita tentang mahligai rumah tangga bahagia
Yang akhirnya  sirna pupus tak jelma dalam nyata
Pecah berbongkah-bongkah Cuma kenangan sisa
Hingga kini kenangan itu masih saja menggodaku
Masih  terus  mengganggu jiwaku di setiap waktu
Merobek,  mengoyak-ngoyak  hati dan jantungku
Sukmaku  keloro-laro,  luka  terasa  semakin  perih
Semakin  pedih  sebab cita-cita itu tak bisa terraih
Bongkah-bongkah kenangan itu semakin membaka
Jadi batu  prasasti bertulis kenangan lama cinta kita
Tentang tujuan cinta yang tak pernah menjadi  nyata
Tentang  cita-cita  mahligai  rumah tangga yang sirna
Dan aku hanya bisa menerima dengan ikhlas dan rela
Kehidupan memang laksana irama, garis dan warna
Merah,  kuning,  biru,  hijau, indah dipandang mata
Terkadang  sedih  menangis  kadang  riang  tertawa
Dan,  semuanya  itu  adalah  rentang  jalan panjang
Tentang  lakon  hidup  manusia  laksana  wayang 
Utan Kayu Selatan,
21 Desember 2014/03:35 WIB

Denmas Priyadi Blog: "INILAH KARYAKU": "PUISI KENANGAN SLAMET PRIYADI": Image "Lutfiah Bastiani " "KENANGAN CINTA YANG TERSISA" Karya: Denmas Priyadi Ku kuak juga kenangan i...