Sabtu, 12 Mei 2018

DUKA KUNTI LARA DRUPADI BAGIAN 1”

Ki Slamet Blog - Seni Budayaya Nusantara 
Sabtu, 12 Mei 2018 - 23:08 WIB

DEWI DRUPADI
KAKAWIN BHARATAYUDA PUPUH LI (1-32)
 DUKA KUNTI LARA DRUPADI BAGIAN 1”
TRANSKRIPSI
TERJEMAHAN BEBAS
1
Nda nâhan ling dewi Drupdatanayâ sâmbad anangis.
Rumêncêm ri twas Krêshnna kadi hiris mâr mratawêlas.
Matangnyan yatnâmodana manupasân twânghari-harih.
Kumon dewi tan tibra dahat alarâ-noliha widhi.
1
Demikian kata Dewi Drupadi, anak raja Drupada. Pada saat ia menangis, raja Kresna hatinya serasa diiris-iris. Ia me- naruh belas kasihan terhadap nasib dewi Drupadi. Maka Kresna berupaya menenteramkan hati dewi Drupadi dengan berkata lemah lembut agar berupaya mengingat kepada takdir.
2
Uddû dewi haywa ngwang iki sinêsêl rakryan ing ujar paran tan marmmâni i sakulagottranta kinêmit.
Rinâksha sing marmmânya n ahajênga pinrih pihayu.
Kiningkinkwi rehanya tulusamanêmwa n kesugatin.

2
“Wahai Drupadi, janganlah kau selalu berkata-kata dirudung penyesalan kepada saya. Saya akan selalu menjaga keselamatan keluarga dan wangsa sang puteri. Bahkan, sampai kepada tujuan kebahagiaan yang kekal itu akan selalu saya perhatikan.
3
Kunêng tâpan mewêh têkapi pangukih- ning widhiwҫa.
Paningkahning hyang ta pwa niyata n ikin tan kakawaҫa.
Ulah ngûni pûrwwasthiti halahayunyâ-
Wama phala.
Suka mwang duhkâwâsya watês iki lâwan pati hurip.
3
Namun segalanya bergantung kepada takdir. Apa yang telah ditentukan oleh dewa-dewa tak dapat diatasi oleh manusia. Perbuatan baik dan buruk semuanya membawa pahalanya masing-masing. Suka dan duka, hidup dan mati secara mutlak menjadi batas nasib manusia.
4
Mangtanyan haywâҫâ dahat i pati sang wirapurusha.
Apan mantuk ring swargga niyata nir âmangguha hayu.
Kasatyan rakryanta pwa ya gamêlane Pânnddtanaya.
Ikâwâs marmmâning mapupul ajêmah ring surapada.

4
Maka dari itu, hendaknya tuan puteri jangan terlalu memikirkan kematian orang-orang gagah perwira itu. Sebab mereka telah pulang ke sorga, tempat kebahagian yang kekal. Kesetiaan tuan puteri terhadap anak-anak Pandu,kelak menjadi sebab tuan puteri berkumpul dengan mereka di tempat dewa-dewa.

P u s t a k a  :
Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparto
Kakawin Bharata-Yuddha, Bhratara – Jakarta 1968
kamis, 10 Mei 2018  04:34 WIB
Drs. Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan, Bogor

 


Blog Denmas Priyadi: WAYANG ISLAMI: DUKA KUNTI LARA DRUPADI BAGIAN 1”: Ki Slamet Blog - Wayang Islami   Sabtu, 12 Mei 2018 - 22:40 WIB   Dewi Kunti Dewi Drupadi KAKAWIN BHARATAYUDA PUP...

Rabu, 02 Mei 2018

“DINAMIKA POLITIK JELANG PILPRES” Karya Ki Slamet 42

Ki Slamet Blog - Seni Budaya Nusantara
Kamis, 03 Mei 2018 - 08:50 WIB

Sangkuni

“DINAMIKA POLITIK  JELANG PILPRES”
Karya Ki Slamet 42

Jelang Pilpres ditahun  dua ribu  sembilan belas
Suhu politik negeri semakin gerah kian memanas
Antar pendukung saling cela tak lagi kenal batas
Berkata kotor, sumpah serapah yang tak pantas

Memuja dan menyanjung kandidat yang didukung
Gunakan intrik,  strategi dan taktik  menggulung
Kampanye hitam, survey palsu semuanya dipulung
Tuk kemenangan sang kandidat agar menjadi ulung

Para Carmuka cari muka bermuka dua di mana-mana
Bersikap Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa
Padahal mereka berwatak  Sangkuni  pengadu domba
Berantrak-intrik, kutak-katik mencari jabatan semata

Semua merasa paling pakar, paling pintar, paling benar
Pun para purnawirawan, mantan jendral,  begitu tegar
Kokoh berseloroh  penuh emosi  turut berkoar-koar  
Saling beralibi, berargumentasi  nan keras menggelegar

Dinamika politik jelang pilpres dua ribu sembilan belas
Fitnah keji, cela mencela, puja memuja semakin meluas
Menghiasi di seantero negeri  bumi pertiwi Nusantara
Yang Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu jua

Tegaklah NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia

Kamis, 03 Mei 2018 08:55 WIB
Pangarakan, Bogor  


Sabtu, 03 Juni 2017

Makam Istri Prabu Siliwangi di Kebun Raya Bogor

Seni Budaya Nusantara
Minggu, 04 Juni 2017 - 09:41 WIB

Makam Istri Prabu Siliwangi

Ada Makam Istri Prabu Siliwangi di Kebun Raya Bogor?

Selasa, 28 Juli 2015 | 18:11
Hallobogor.com, Bogor Tengah – Setiap orang pasti pernah dengar atau mungkin pernah berkunjung ke Kebun Raya Bogor, yang merupakan salah satu tempat pariwisata kebanggaan orang Bogor.

Tetapi, mungkin hanya sebagian orang saja yang tahu bawa di dalam area Kebun Raya Bogor, tepatnya di seberang jembatan gantung salah satu icon Kebun Raya, terdapat 3 makam yang di kramatkan.

Berada di dalam kompleks pemakaman kecil seluas sekitar 200 meter persegi yang dilindungi pagar besi tak jauh dari Jembatan Merah Gantung di KRB, makam-makam itu diyakini sebagai makam Ratu Galuh Mangku Alam (istri Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran), makam Mbah Baul, Patih Kerajaan Pajajaran, serta makam Mbah Japra (pendiri Kampung Paledang).

Juru kunci makam keramat ini adalah Abdurrahman yang merupakan keturunan kedua dari juru kunci makam keramat. Sebelumnya yang menjadi juru kunci makam adalah H Rahmat, ayah dari Abdurrahman. Sedangkan yang menjadi perawat makam keramat saat ini dipegang Atmawijaya dan Ugan, yang masih ada hubungan saudara juru kunci.

Juru kunci menjelaskan, ketiga makam ini merupakan bukti sejarah adanya kekuasaan Kerajaan Padjajaran di Kota Bogor. “Makam keramat ini sering didatangi oleh pengunjung. Tujuan dari mereka pun bermacam–macam,” ungkap Abdurahman seperti yang dikutip oleh halloapakabar.com.
 
Kompleks makam terletak di dasar sebuah tebing, di bagian belakang kompleks Istana Bogor. Dua batang pohon setinggi puluhan meter dari jenis Ferminalia lellirica dan Ficus magnoliaefolia blume bahkan tampak tumbuh di baik pagar, di dalam kompleks makam.
Dulu, saat malam, komplek Makam Ratu Galuh selalu dihindari satpam Kebun Raya. Bukan karena jauh atau gelap, tetapi nuansa berbeda dirasakan ketika melangkahkan kaki menuju makam yang berada dekat dengan Jembatan Merah ini.

Pernah juga ada seorang peziarah yang datang tengah malam untuk berdoa di makam istri Prabu Siliwangi ini. Tapi niat itu harus diurungkan, karena ada dua hewan putih dengan loreng hitam menjaga jalan menuju makam. Katanya harimau putih punyanya Prabu Siliwangi.

Bukan hanya itu, pernah ada satpam dikejar kelelawar raksasa di area komplek makam tersebut. “Sayapnya kalau dilebarkan bisa sampai enam meter, selebar jalan lebih. Gedenya aja hampir sama kaya orang.

Kini sudah tidak ada lagi penampakkan dari Ratu Galuh di komplek makam. Pasalnya, Orang sekarang udah gak suci lagi niatnya kalau mau ke makam. Dulu katanya Ratu Galuh sering nampak menggunakan pakaian kebaya, layaknya seorang ratu.

Selain itu, tidak ada lagi peziarah yang datang malam hari, karena sejak Presiden Jokowi sering menginap di Istana Bogor, Kebun Raya Bogor dan terutama tempat-tempat tersebut menjadi terutup di malam hari.

Alamat Kebun Raya Bogor : Jalan Otto Iskandardinata No 13, Bogor, Jawa Barat. Telpon (0251) 32 2226. (Laporan : Brata, Bogor) 

Selasa, 12 Juli 2016

ONDEL-ONDEL BETAWI SEMARAKKAN LEBARAN DI KAMPUNG KRAMAT ASEM UTANKAYU SELATANBy Drs. Slamet Priyadi

Blog Ki Slamet: Seni Budaya Nusantara
Rabu, 13 Juli 2016 - 13:29 WIB

Sore itu Sabtu, 09 Juli 2016 sekitar pukul 16:00 WIB di Kp. Kramat Asem, Utankayu Selatan terdengar gesekan instrumen musik rebab yang melengking keras dan seperangkat instrumen perkusi kecrek, kenong, dan kendang memainkan lagu-lagu gambang kromong. Beberapa di antaranya adalah Jali-Jali, Sirih Kuning, dan Ondel-Ondel dari album lawas Ida Royani-Benyamin Sueb.

Rupanya lagu-lagu tersebut dimainkan oleh skelompok pengamen muda belia berusia belasan tahun, mengiringi tarian sepasang ondel-ondel Betawi yang bergoyang, berbutar-putar di sepanjang jalan dan gang sempit di tengah padatnya perumahan penduduk yang dilaluinya.

Persis, ketika rombongan pengamen onde-ondel itu lewat di depan rumah Almarhum bapak Aspas, tempat singgah kami sekeluarga lebaran Idul Fitri 1437 Hijriah, di halaman rumah yang tak begitu luas, rombongan pengamen itu berhenti.

Tak berapa lama kemudian rombongan pengamen ondel-ondel itu kembali memainkan musik Betawi irama gambang kromong dengan lagu-lagu khasnya yang sudah tak asing lagi bagi warga  Kampung Kramat Asem, Utankayu Selatan yang memang mayoritas penghuninya adalah masyarakat Betawi.

Sepasang ondel-ondel Betawi kembali menari-nari, berputar-putar, berjalan lenggak-lenggok kian kemari mengikuti irama lagu dan iringan musik pengiring yang mengalun mendayu-dayu, merayu-rayu penuh kemayu.  

Sementara musik dan ondel-ondel terus beraksi, salah seorang rombongan pengamen berkeliling mengajak penonton yang kebanyakan anak-anak dan ibu rumah tangga untuk memberi uang saweran.

Karena tak banyak anak-anak dan ibu-ibu penonton yang berpartisipasi memberi uang saweran,
aku bertanya kepadanya:

“Oya, mong-omong kalo satu lagu berapa uang sawernya?”
“Lima ribu rupiah, pak!” jawabnya singkat.
“Baik, kalo begitu saya pesan lima lagu, ya!”

Aku pun segera ambil uang dari saku baju Rp.10.000 dan minta pula pada isteri dan saudara iparku yang ikut menonton hingga terkumpul semuanya sebanyak Rp.25.000 lalu serahkan ke padanya. Meski nilai uang itu relatif tak seberapa untuk sebuah apresiasi musik, namun ada keceriaan nampak pada wajah rombongan pengamen Ondel-ondel, karena tujuan mereka mengamen lewat kesenian Ondel-Ondel Betawi, semata-mata adalah untuk melestarikan budaya Betawi, khususnya kesenian Ondel-Ondel yang kini sudah mulai ditinggalkan oleh banyak generasi muda Betawi itu sendiri.

Kramat Asem, Utankayu Selatan
Sabtu, 09 Juli 2016 – 22 : 15 WIB