Minggu, 13 Februari 2022

MANGIR MEMBARA By Apung Swarna

MANGIR MEMBARA Episode 1 By Apung Swarna Agak lama Prasaja berada di tepi kali Praga, dan setelah matahari melewati puncak langit, Prasaja segera berdiri lalu pulang ke rumah ayahnya. - Perutku sudah lapar, sampai di rumah mudah-mudahan nasinya sudah masak – desis Prasaja. Beberapa saat kemudian, langkah kaki Prasaja pun terayun menuju rumah ayahnya, dan ternyata ayahnya sudah menunggunya. - Makan siang sudah siap Prasaja – kata ayahnya, lalu ayahnya berkata lagi – tadi Lindri memasak sayur asam dan ikan asin -. Prasaja melangkah menuju ruang dalam, di sana ada sebuah cething yang berisi nasi bersama sayur asem yang ditempatkan di sebuah mangkuk gerabah. -Ya ayah, kebetulan perutku sudah lapar – jwab Prasaja – Adi Rumeksa dan Adi Pamungkas pergi berlatih? – -Ya, hari ini dan besok pagi, para pengawal masih berlatih, lusa mungkin mereka beristirahat – kata ayahnya. Tak lam kemudiankedua orang ayah dan anak itu menikmati makan siang di ruang dalam. -setelah berjalan mengitari Kademngan Srandakan dari pagi sampai siang, terasa sayur asam dan ikan asin ini segar sekali, tepat untuk perut yang lapar – kata Prasaja sambil tersenyum. -Ya, makannya tambah lagi Prasaja, nasinya masih banyak – kata ayahnya. -Ya, ayah – jawab Prasaja singkat. Lindri tersenyum, hatinya menjadi senang ketika melihat ayah dan kakaknya makan sayur asam buatannya dengan lahapnya. Matahari terus bergerak ke arah barat, dan awan mendung mulai menggantung di langit Mangir, sinar surya berusaha menerobos beberapa awan kelabu yang bergerak tertiup angin, dan ketika senja telah berlalu, temaram pun segera menyelimuti di semua tempat di Kademangan Srandakan. Malam itu gerimis mengguyur di seluruh tlatah Mangir, menjadikan suasana di rumah Ki Kuwung, mantan jagabaya Kademangan Srandakn menjadi sepi. Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan, Lido –Bogor – Sabtu, 29 Desember 2022 - 11:25 . WIB. ( B E R S A M B U N G ). -Tengah malam – kata seorang nenek sambil memeluk cucu satu-satunya dan nenek itu segera menyelimuti cucunya dengan kain lusuh miliknya. -Kasihan, genduk kedinginan – katanya perlahan – Setelah kedua orang tuanya, hanya dia milikku yang paling berharga, cucuku satu-satunya – Menjelang fajar, suara kokok ayam hanya terdengar beberapa kali, gerimis pun telah berhenti, di bang wetan, matahari yang mengintip dari balik bukit, dengan sinarnya yang kemerahan-merahan tak mmpu menembus awan yang menyelimuti bumi Kademangan Srandakan. Pagi tu Rumeksa dan Pamungkas telah berangkat berlatih bersama para pengawal Kemngiran, dan Prasaja tidak mempunyai rencana untuk ke luar rumah, hari ini ia akan membantu ayahnya membelah kayu bakar di halaman belakang. Ki Kuwung pun tersenyum keika Prasaja berkata – Biar aku saja yang membelah kayu bakar tu, ayah beristirahat saja di dalam rumah -. -Ah, apa enaknya hanya berdiam diri Prasaja, biarlah, ayah masih kuat membelah kayu bakar ini – kata ayahnya. Matahari tak henti-hentinya terus bergerak ke arah barat, setelah membantu ayahnya membelah kayu bakar, Prasaja kemudian duduk di lincak bambu di samping rumah. Hari hampir sore, ketika tiba-tiba timbul keinginan Prasaja untuk berjalan-jalan ke sungai. -Biasanya pada waktu sore hri para gadis kademangan Srandakan banyak yang mencuci pakaian atau mengambil air di belik dekat sungai, apakah saat ini Warih masih pergi ke sungai mencuci pakaian seperti dahulu bersama teman-temannya? – tanya Prasaja kepada dirinya sendiri. Prasaj pun bangkit berdiri, kepada ayahnya ia pamit akan berjalan-jalan tidak jauh dari rumahnya. Setelah keluar dari regol, Prasaja berjalan beberapa puluh langkah dan setelah melewati sebuah pertigaan di dekat pohon gayam, maka ia pun berbelok ke kanan, lalu menyusuri jalan setapak menuju sungai yang mengalir tidak jauh dari rumhnya. -Warih, tenangkan, tidak ada apa-apa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan – kata Prasaja sambil memandang tajam ke arah tebing sungai di depannya. Beberpa saat kemudian, dari tebing tebing sungai yang berjarak beberapa puluh puluh langkah di depannya, muncul dua orang pemuda yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Prasaja terkejut ketika melihat dua orang yang berjalan itu, sedangkan dua orang itu pun juga terkejut ketika melihat Prasaja yang berdiri bersama empat orang gadis yang tadi dilihatnya berada di tepi sungai. -Hm yang datang ternyata adalah dua orang murid padepokan Ringin Telu – kata Prasaja perlahan. Setelah keduanya semakin dekat, Prasaja berkata kepada kedua orang pemuda itu – ternyata yang berada di sungai adalah Maruta dan kau Adi Wicara, kalian berdua telah membuat para gadis yang sedang berada di sungai menjadi terkejut dan ketakutan-. Setelah tertawanya mereda, ia pun berkata – Kau lucu sekali Prasaja, setelah tertawanya mereda, ia pun berkata – kau lucu sekali Prasaja, apakah ada larangan apabila ada seseorang yang ingin berjalan di tepi sungai? -. -Ada Maruta, ada, para gadis ini ketakutan karena kalian berjalan di tepi sungai sebelah selatan Maruta, tepi sungai di sebelah selatan adalah untuk tempat perempuan, seharusnya kau berada di sebelah utara, tempat itu untuk laki-laki – kata Prasaja. -Prasaja, kau tahu, aku bukan orang Srandakan, jadi aku tidak mengetahui aturan yang berlaku di sungai ini – kata Jaka Mruta membela diri. -Kau membuat gadis-gadis ini menjadi berlari ketakutan, Maruta – kata Prasaja. -Menyentuh pun aku tidak – kata Jaka Maruta yang wajahnya masih tetap tenang, tetapi ia segera menggeser tubuhnya ketika melihat Wicara akan bergerak mendekati Prasaja, aku berdua lewat, aku tidak akan berbuat apa pun, apalagi mengganggu gadis-gadis cantik ini -. Setelah itu Jaka Maruta menggeser badannya sehingga berhadapan dengan Warih, lalu membungkukkan badannya sambill berkata – Selamat sore Warih, aku Jaka Maruta, aku minta maaf karena telah membuatmu terkejut, hanya lewat di sungai itu, dan sekarang aku akan meneruskan perjalananku – Warih tidak menjawab, ia berdiri di belakng Prasaja bersama tiga orang temannya. Setelah berkata demikian, Jaka Maruta segera menarik tangan Wicara, lalu mereka berdua berjalan meninggalkan Prasaja yang masih berdiri bersama empat orang gadis Kademangan Srandakan itu. Jaka Maruta dan Wicara terus melangkah, setelah berjalan agak jauh maka Wicara pun berkata – Kakang Maruta kenapa kakang mengalah, sebaiknya tadi kakang menantang kakang Prasaja -. -Bertarung? Jangan tergesa-gesa adi Wicara, kau ingin gadis-gadis itu menjerit ketakutan dan para pengawal Kademangan Srandakan berdatangan ke tepi sungai? – kata Jaka Maruta. Wicara tidak menjawab, lalu Jaka Maruta pun melanjutkan perkataannya – tetapi betul katamu adi Wicara ternyata Warih memang seorang gadis yang cantik, dan Prasaja merupakan sebuah penghalang bagiku -. -Ya – jawab Wicara pendek. -Tanganku sudah gatal, Prasaja harus aku singkirkan, besuk kita akan membuat sebuah gara-gara, Prasaja akan aku hajar dan aku akan buat tubuhnya menjadi babak belur – kata Jaka Maruta. -Aku saja yang membuatnya babak belur – kata Jaka Maruta. -Aku saja yang membuatnya babak belur kakang, aku akan tantang dia, aku nanti yang akan menghajar kakang Prasaja – kata Wicara. -Jangan adi Wicara, ini adalah urusn tentang Warih, ini urusanku dengan Prasaja, ingat, kau tidak usah ikut campur persoalan Warih adi Wicara, persoalan ini aku akan selesaikan sendiri – kata Jaka Maruta sambil tertawa. Wicara tidak menjawab, mereka berduaa masih berjalan lurus, setelah melewati pohon gayam, maka bayangan mereka berdua telah hilang terhalang pepohonan.
Beberapa puluh langkah di dekat tebing sungai, setelah ditinggal kedua orang murid Ringin telu, Prasajja dan empat orang gadis Kademangan Srandakn masih berada di sana. -Klentingku masih tertinggal di belik – kata salah seorang gadis. -Bakul dan kainku juga masih ketinggalan di tepi sungai – kata seorang gadis di sebelahnya. -Ya, bakulku juga masih ketinggalan di sana – kata gadis lainnya. -Mari kita ambil klentingnya di belik, sekalian mengambil bakul dan kain yang masih ditinggal di tepi sungai, kakang Prasaja, tolong antar kmi kembali ke sungai – kata Warih. -Baiklah, mari aku antar kalian kembali ke sungai – jawab Prasaja. Sesaatkemudian empat orang gadis itu pun berjalan kembali ke sungai diantar oleh Prasaja. Perlahan-lahan mereka menuruni tebing sungai, seorang gadis berjalan menuju belik mengambil klentingnya yang tertinggal, sedangkan Warih dan dua orang gadis lainnya mengambil bakul kainnya yang trtinggal di tepi sungai. -Apakah semuanya sudah selesai – tanya Prasaja. -Sudah kakang – kata Warih perlahan. -Belum, tunggu sebentar, kain biyungku tinggal satu yang belum aku cuci – kata seorang gadis, lalu dengan cepat ia pun segera mencuci kain biyungnya dengan menggunakan buah lerak. Kain itu pun kemudian dicuci di atas sebuah batu, dan ketika lerak itu dipakai untuk mencuci kain, timbul sedikit buih yang dapat membuat kain menjadi bersih. Seorang gadis lainnya yang tadi telah mengambil klentingnya, terlihat duduk berdua dengan gadis lainnya yang membawa bakul. Sedangkan Prasaja duduk di atas batu, berhadapan dengan Warih, mereka berdua terlihat sedang berbicara. -Kakang Prasaja kenal dengan kedua pemuda yang telah membuat kami ketakutan itu? – tanya Warih. -Ya aku kenal mereka – kata Prasaja – Mereka bernama Jaka Maruta dan Wicara, keduanya murid dari padepokan Ringin Telu di lereng Gunung Lawu -. Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan – Bogor – Senin,14Febuari 2022 09:43 . WIB. ( B E R S A M B U N G ). LITERASI : “MANGIR MEMBARA” Penulis : Apung Suwarna Penerbit : Amara Books 1912