Minggu, 31 Maret 2019

Prof.Dr.Sutjipto Wirjosuparto: KAKAWIN BHARATAYUDHA Pupuh XXXV Bag. 1

Blog Ki Slamet 42 : "Seni Budaya Nusantara"
Senin, 01 April 2019 - 08:35 WIB
 
Image "ASWATAMA (Foto : SP)
ASWATAMA
“KAKAWIN BHARATAYUDA”
PUPUH XXXV BAGIAN 1 (1–5)
"ASWATAMA MURKA"
Transkripsi
Terjemahan Bebas
1
 Akweh wuwus nrêpati matwang apinta kâsih.
Çri Çalya yatna sumahur prabhu haywa mangkâ.
Ndi n ngwang wimûdda wênabga pratisâra ring prang.
Wwang hinakâya tuna çakti kurang prabhâwa.
1
Banyak sudah kata-kata bujuk rayu Suyodana yang disampaikan kepada Raja Salya agar mau membantu dirinya, maka Raja Salya pun berkata:
“Wahai sang Raja, janganlah berkata demikian, bagaimana bisa saya yang bodoh ini menjadi tempat perlindungan dalam pertempuran nanti, karena saya hanyalah orang bodoh yang tidak memiliki kesaktian dan pengaruh apa-apa!”

2
Ndân amriha nghulun atoha huripku kêdwa.
Yang tanggapên wacanani ngwang i jng narendra.
Kêdwapatûta haji len prabhu Panndduputra.
2
“Terus terang, saya mau mempertaruhkan hidup saya untuk negeri tuan asal tuan raja mau menerima saran saya yang telah saya ajukan kepada tuan raja agar mau berdamai dengan Raja Yudhistira, anak Pandu. Dengan ini tuan Raja Suyodana akan mendapat kebahagiaan dan kesenangan!”

3
Yadyan wihânga rasikâ ngwang iki wêkasnya.
Tan rwangên nghulun amâtyana yeng ranângga.
Yadyan humta mamarâtaçraya ri hyang Iça.
Rohênkwa ta pwa wulikên niyatanya mâtya.

3
“Akan tetapi jika mereka, orang-orang pandawa itu segan dan menolak maka saya akan berpihak kepada tuan Raja Suyodana.
4
Ling Çalya sambhrama sahur Dhrêtarâshttraputra.
Ddu yogya tan hana salahni pakonta nâtha.
Ndan sep dahat rasana nugûni ta kenakanya.
Tolih pwa duhkaning anom kulawargga mati.
4
Demikian ucapan Raja Salya kepada Suyodana yang langsung menanggapinya :
“Ramanda Raja Salya, apa yang ramanda katakan itu baik dan tidak ada salahnya. Tetapi sekarang ini waktu kita sudah terlambat. Perhatikanlah penderitaan sanak keluarga mereka yang telah mati!”
  
5
Nahan wuwus nrêpati kâlih akêdwa-kêdwan.
San Dronnaputra wêkasan sumahur kabângan.
Kedwâsih ing kujana Pânnddawa çatru mûrkka.









5
Demikianlah dialog antara Raja Suyodana dan Raja Salya yang masing-masing meyakinkan pendapatnya. Akan tetapi Aswatama, putera Begawan Dorna tiba-tiba menyelak berbicara dengan kata-kata keras: “Bah, ucapan Raja Salya jelas sekali berat sebelah memihak kepada Pandawa yang jahat, musuh kita yang angkuh.     
Bersambung !
Pustaka :
Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparto
Kakawin Bharata-Yuddha, Bhratara – Jakarta 1968

Senin, 01 April 2019  08:05 WIB
Drs. Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan, Bogor

Sabtu, 30 Maret 2019

Prof.Dr.R.M. Sutjipto Wirjosuparto: "KAKAWIN BHARATAYUDHA" Pupuh XXXIV

Blog Ki Slamet 42 : "Seni Budaya Nusantara"
Minggu, 31 Maret 2019 - 09:09 WIB

Duryudana
 
Salya (Narasoma)



“KAKAWIN BHARATAYUDA”
PUPUH XXXIV (1 – 5 )
BUJUK RAYU SUYODANA KEPADA RAJA SALYA

Transkripsi
Terjemahan Bebas
1
Nahan wacana sang narâryya sira sang Çakuni sumahurâdar-ârarêm.
Kshamâkêna hatur patik nrêpati tan wihanga sapangu-tus narâdhipa.
Kunêng pwa niyatâ n ikin wruha muwah rusitana ring upâya bancana.
Tuwi pwa n akabêt kasep haji ya tan mapagakêna pamuknya ring ranna.
1
Demikianlah ucapan Raja Suyodana, dan Sangkuni menjawabnya dengan tenang:
“Maafkan ucapan saya yang tak mau menentang apa yang telah diucapkan oleh raja. Benarlah apa kata raja itu, asal kita  juga tahu tipu muslihat yang akan kita gunakan. Begitu pula waktunya pun akan ter-lambat, jika kita tidak hadapi serangan mereka di medan pertempuran!”

2
Hana pwa naranatha Çalya saphalâçraya narapati tanggwanâprang.
Parârtha ratu çûra çakti subhâ-gan krêtayaça pinujing jagatraya.
Musuh mapa tikâ hilang denira n amapaga ring rannânggana.
Kunang pwa makahingana ng sihira len niyatewêherika.

2
“Masih ada Raja Salya untuk kita minta bantuannya karena dia seorang raja yang mahir dalam peperangan, sakti dan tidak mementingkan dirinya sendiri. Musuh manakah yang tidak akan binasa olehnya, jika berhadapan dengan Salya. Yang penting bagi kita adalah mengetahui sampai sejauh mana ia masih menaruh kebenciaan kepada kita, itulah yang menyulitkan!”
 
la3
Awâs mara pagêhni sihnira sang nrêpati nihan iking pangawruha.
Syapolya karikânuwânggêhira de Nakula sawawa çatru sang prabhu.
Tathâpi tan inge manahnira malih-maliha saha sake nareçwara.
Nghing ewêh inanugrahâkê-nanirâta huripira ri panca Pânnddawa.
3
“Tetapi jelas kiranya, rasa kesetiakawan Raja Salya lebih condong kepada Raja, karena bagi dirinya yang lebih tinggi martabatnya dari dia, itulah yang diikutinya. Meskipun ia dalam hubungannya dengan Nakula adalah seorang paman. Hanya saja kesulitannya adalah bahwa ia telah menyerahkan hidupnya kepada Pandawa lima!”  
4
Matangnya sira pinta kâsiha-na kêdwakêna tangisana prihӗ-ntêmên.
Hyangӗn pangubhayânireki n amawâng bala sira çarannâçra-yâpranga.
Awâsta jayaçatru sang prabhu yadin tulusa sihanire nareçwara.
Apan sakala Rudramûrti sira çakti wani mawêlas ing nirâç-çraya.

4
“Maka dari itu, kita harus merayu kalau bisa memohon belas kasihan kepada Raja Salya agar mau membantu kita, memihak kepada kita, dan bersedia  memimpin tentara Kurawa ke medan perang!”
“Wahai raja, saya yakin Raja Salya akan mengalahkan musuh-musuh kita asal saja dia dengan setulus hati menaruh rasa hormat kepada Raja, oleh karena dia adalah jelmaan dari Dewa Rudra yang sakti dan menaruh belas kasih kepada mereka yang membutuhkan perlindungannya!” 

5
Samangka pituturnira ng Çakuni sang nrêpati mangayu-bhâgya sambhrama.
Tumuntên umare narâdhipati Çalya têka mangabhiwâda sâdara.
Bapa nda mahanakta nâtha yaçaniki pihutang i kasingha-wi kraman.
Nareçwara tikâ makâdhipa-tining bala mêjahana çatruning hulun.
 
5
  Demikian wejangan Sangkuni kepada keponakannya Raja Suyodana yang dengan segala hormat menerima pesan dan saran dari pamannya itu.
Maka Suyodana pun menuju ke tempat Raja Salya berkata dengan penuh rasa hormat :
“Wahai ayahanda Raja Salya, tolonglah ananda yang ingin berbuat jasa ini agar kiranya ayahanda mau memberikan keberanian ayahanda yang bagaikan singa itu. Hendaknya ayahanda Raja Salya menjadi panglima perang tentara Kurawa untuk membunuh musuh-musuh anakanda.
   




Pustaka :
Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparto
Kakawin Bharata-Yuddha, Bhratara – Jakarta 1968

Minggu, 31 Maret 2019 - 15:40 WIB
Drs. Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan, Bogor