Senin, 04 Mei 2020

"AMBITUS SUARA MANUSIA" By Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42: Seni Budaya Nusantara
Rabu, 05 Mei 2020 - 06.13 WIB



 AMBITUS SUARA MANUSIA
By Ki Slamet 42

Kita ketahui bersama bahwa setiap individu manusia memiliki suara yang berbeda-beda. Hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan pada alat pembentuk suara seperti pita atau selaput suara yang dimiliki pada setiap orang.

Di dalam referensi music, ambitus suara adalah batas kemampuan seseorang dalam menyuarakan atau menyanyikan wilayah nada suatu lagu. Jelasnya, ambitus suara manusia adalah batas-batas wilayah nada yang bisa dicapai atau disuarakan oleh seseorang.
 
Image "Ambitus suara manusia" (Foto : SP)
Ambitus / Wilayah suara manusi
Adapun menurut ambitusnya, suara manusia bisa dikelompokkan ke dalam:
1.      Suara wanita:
a.      Sopran = Suara tinggi wanita, wilayah nadanya c’- a’’
b.      Mezo Sopran = Suara sedang wanita, wilayah nadanya a - f’’
c.       Alto = Suara rendah wanita, wilayah nadanya  f – d’’
2.      Suara pria :
a.      Tenor = Suara tinggi pria, wilayah nadanya  c – a’’
b.      Bariton = Suara sedang pria, wilayah nadanya  A – f’
c.       Bass = Suara rendah pria, wilayah nadanya  F – d’
3.      Suara anak-anak
a.      Suara anak-anak tinggi, wilayah nadanya  c’ – f’
b.      Suara anak rendah, wilayah nadanya  a – d’’

Pada anak-anak ambitus suaranya masih belum stabil dan masih bisa berubah. Hal yang demikian dikarenakan anak-anak masih dalam proses perkembangan, begitu pun dengan alat pembentuk suaranya.

Bagi mereka yang mempunyai hobi menyanyi atau berprofesi sebagai penyanyi, sebaiknya jangan pernah mencoba untuk memaksakan diri membawakan suatu lagu dengan nada dasar yang di luar jangkauan ambitus suaranya.  Jika hal ini masih dipaksakan juga, selain suara akan terdengar sumbang dan tidak harmonis, pita suaranya pun akan menjadi rusak.

~ KSP ~
Selasa, 05 Mei 2020 – 02.53 WIB
Kp. Pangarakan, Lido - Bogor

Minggu, 03 Mei 2020

"KENANGAN NONTO FILM LAYAR TANCEP" By Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42: Seni Budaya Nusantara
Senin, 04 Mei 2020 - 09.42 WIB


KENANGAN NONTON FILM LAYAR TANCEP
By Ki Slamet 42

Ketika saya masih kanak-kanak kelas enam, sekolah di SD Gotong Royong di Kampung Pisangan Baru daerah Jatinegara, Jakarta Timur tahun 1970, saya suka sekali menonton film cowboy. Ketika itu film yang saya tonton tidak bersuara alias bisu, meskipun begitu saya dan teman-teman sekampung sangat menyukainya karena pada saat itu film layar lebar memang belum seperti sekarang. 

Bagi saya pada waktu itu, film yang bagus adalah film yang ceritanya banyak menampilkan adegan tembak-menembak antara jagoan dan para bandit, ada nona(non) yang diculik para bandit kemudian datanglah sang jagoan menolong si Non. Terjadilah perkelahian, kejar-kejaran di atas kuda. Sang jagoan kemudian mengacungkan pitolnya diarahkan ke para bandit, lalu sang jagoan menembakkan pistolnya ke arah lawan. Ada adegan “duel”, perkelahian satu lawan satu baik dengan tangan kosong maupun adu kecepatan menembak dengan pistol. Sedangkan film-film Indonesia yang paling saya suka pada saat itu di antaranya adalah Nyai Dasima, Tuan Tanah edawung, Pejuang, dll.

Pada setiap ada hajatan di kampung dengan menanggap film, saya dan teman-teman tak pernah absen untuk menonton dengan berselimutkan sarung (krebongan) untuk melindungi tubuh dari udara dingin, dan tak lupa juga membawa serta tikar pandan, tikar yang terbuat dari daun pandan. Meskipun dengan resiko akan kena marah dari orang tua serta dipukul dengan rotan oleh orang tua yang terasa pedih di pantat karena pergi nonton tak pernah bilang dan pulangnya menjelang Subuh.

demikianlah secuil cerita kenangan masa kanak-kanak saya ketika menonton film layar tancep di era tahun enampuluhan hinggalah sampai tahun tujuhpuluhan dengan segala romantikanya.

~KSP42~
Senin, 04 Mei 2020 – 08.12 WIB
Kp. Pangarakan, Lido - Bogor

"KENANGAN NON FILM LAYAR TANCEP" By Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42: Seni Budaya Nusantara
Senin, 04 Mei 2020 - 09.16 WIB

KENANGAN NONTON FILM LAYAR TANCEP
By Ki Slamet 42

Ketika saya masih kanak-kanak kelas enam, sekolah di SD Gotong Royong di Kampung Pisangan Baru daerah Jatinegara, Jakarta Timur tahun 1970, saya suka sekali menonton film cowboy. Ketika itu film yang saya tonton tidak bersuara alias bisu, meskipun begitu saya dan teman-teman sekampung sangat menyukainya karena pada saat itu film layar lebar memang belum seperti sekarang. 

Bagi saya pada waktu itu, film yang bagus adalah film yang ceritanya banyak menampilkan adegan tembak-menembak antara jagoan dan para bandit, ada nona(non) yang diculik para bandit kemudian datanglah sang jagoan menolong si Non. Terjadilah perkelahian, kejar-kejaran di atas kuda. Sang jagoan kemudian mengacungkan pitolnya diarahkan ke para bandit, lalu sang jagoan menembakkan pistolnya ke arah lawan. Ada adegan “duel”, perkelahian satu lawan satu baik dengan tangan kosong maupun adu kecepatan menembak dengan pistol. Sedangkan film-film Indonesia yang paling saya suka pada saat itu di antaranya adalah Nyai Dasima, Tuan Tanah edawung, Pejuang, dll.

Pada setiap ada hajatan di kampung dengan menanggap film, saya dan teman-teman tak pernah absen untuk menonton dengan berselimutkan sarung (krebongan) untuk melindungi tubuh dari udara dingin, dan tak lupa juga membawa serta tikar pandan, tikar yang terbuat dari daun pandan. Meskipun dengan resiko akan kena marah dari orang tua serta dipukul dengan rotan oleh orang tua yang terasa pedih di pantat karena pergi nonton tak pernah bilang dan pulangnya menjelang Subuh.

demikianlah secuil cerita kenangan masa kanak-kanak saya ketika menonton film layar tancep di era tahun enampuluhan hinggalah sampai tahun tujuhpuluhan dengan segala romantikanya.

~KSP42~
Senin, 04 Mei 2020 – 08.12 WIB
Kp. Pangarakan, Lido - Bogor