Jumat, 12 Juli 2013

Cerita Rakyat Kutai: “Kampung Separi dan Segunam” diceritakan oleh Kak Sita


Peta lokasi desa Separi di Kutai, Tenggarong

Blog Sita Rosita – Rabu, 10 Juli 2013 – 17:10 WIB – Tersebutlah kisah dua orang suami istri bernama Gunam dan Ben. Kedua suami istri ini tinggal di sebuah kampung bernama Separi yang terletak di Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kutai.

Kehidupan suami istri Gunam dan Ben selain dari mengerjakan huma dan kebun, juga melakukan kerja sambilan berburu binatang dan memancing jukut (ikan) di sungai. Pakaian mereka terbuat dari kulit kayu jomok (pohon kayu yang kulitnya dapat dijadikan bahan pakaian/celana) untuk dijadikan selowar (celana) atau ulap (kain/tapih).

Seperti biasa dilakukan selama bertahun-tahun, pagi-pagi benar Ben sudah pergi ke huma dan pulang saat senja hari. Rupanya Sangyang telah memberi mereka rezeki, karena huma tahun mereka menghasilkan padi yang cukup banyak. Demikianpula dengan para tentangga Ben sekampung. Teramat senang dan suka cita penduduk benua.

Sudah menjadi adat tradisi kebiasaan penduduk benua, setiap tahun mengadakan erau tahun mengadakan erau tahunan (upacara/pesta adat), sebagai tanda terima kasih mereka terhadap Sangyang yang telah memberipenduduk benua rezeki.

Demikianlah setelah mengetam padi, lalu diadakan erau yang disebut erau benua. Seberapa besar ongkos biaya yang diperlukan tidak menjadi soal bagi mereka karena setiap kepala keluarga sekampung saling bergotong royong. Mereka mengumpulkan berbagai macam barang dan hewan berupa beras, sayuran, ayam, babi dan barang-barang yang lain demi terselenggaranya erau benua. Bagi mereka yang penting adalah erau benua berjalan lancar dan mereka dapat bersenang-senang.

Adat tradisi erau diselenggarakan pada malam hari selama lima belas malam. Pada kesempatan itulah seluruh penduduk para istri dan suami, para gadis dan bujang, para janda dan duda berkesempatan mencari pasangan dan menentukan jodoh mereka, menentukan pilihan hidupnya untuk masa depan mereka.

Akan tetapi tidak demikian dengan si Gunam, ia berniat hadir pada acara erau benua di malam terakhir saja, yaitu di hari yang ke lima belas. Sementara erau benua terus berlangsung, pada malam itu, Gunam pergi mencari jakut di sungai untuk makan bersama istrinya. “Ben, empa’i awak subuh-subuh bejerang, sebab aku hendak pergi mancing jakut ke sungai,” kata Gunam kepada istrinya.

Keesokan paginya setelah makan hambat (sarapan pagi), Gunam diatar istrinya pergi ke pinggir sungai untuk masuk ke dalam gubang lalu menghanyut ke hilir menuruti arus Sungai Mahakam. Gunam mulai melempar dan melabuh pantawnya (pancing yang memakai pelampung gabus) beberapa buah. Dengan sabar Gunam mengawasi pantaw-pantawnya sambil berdoa dan mengharap agar pantawnya dimakan ikan.

Meskipun sudah setengah hari Gunam mengawasi pantawnya, tetapi mandik (tidak) seekor ikan yang mau memakan umpan pancingnya. “Sial benar awak hari ini, tak seekor jukut yang mau mematuk umpanku,” Gunam menggerutu sendiri. Akan tetapi, ia tetap bersabar dan terus berdoa kepada Sangyang agar diberikan rezeki untuk makan bersama istrinya.

Benar kata pepatah. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, karena tiba-tiba pancingnya dimakan jukut pari. Alangkah senang hatinya, ia pun segera membawa pulang ikan hasil pancingannya.

“Leh, buntut pari ini potok baik-baik dan awak salaikan. Dengan buntut pari ini, kendia pada malam penghabisan erau, akan kupepalkan pada gendang,” kata Gunam pada istrinya yang diam saja hanya menganggukkan kepalanya.

“Kanda, tidak cukupkah engan tangan dan jari-jarimu saja memepal gendang itu?” tanya istrinya, Ben  dengan tiba-tiba.

“Mandik, dinda Ben. Pada malam penghabisan itu etam (kita) harus habis-habisan, puas-puaskan, sampai semalam suntuk pun jadilah.” Jawab Gunam meyakinkan.

Demikianlah, hari-hari yang dinantikan pun sampai pada waktunya. Malam penghabisan penyelenggaraan erau benua yang dinanti-nantikan seluruh rakyat negeri pun tiba. Malam kelima belas, sebagai malam penghabisan erau sebenua itu diadakan. Di atas telampak yang kapasitas luasnya bisa menampung rakyat seluruh negeri, nampak hadir pasangan-pasangan suami-istri, anak-anak, gadis dan bujang sampai ke anak cucu. Ada yang berpakaian jomok, ada juga yang telanjang bulat. Semua asyik dengan lakonnya sendiri-sendiri. Ada yang minum tuak, ada pula yang makan daging panggang dengan lahapnya, namun satu sama lain tidaklah saling mengganggu. Masing-masing bebas memenuhi kemauan dan kehendaknya sendiri.

Ketika keramaian pesta sedang asyik-asyiknya berlangsung, di tengah malam buta itu, maka tanpa setahu orang lain, Gunam mencoba dengan ekor jukut parinya memepal gendang itu. Baru beberapa kali ekor jukut pari itu itu dipepalkan, serta merta keadaan malam yang kelam jadi berubah. Dengan tiba-tiba datanglah kilat memancarkan cahaya terang disertai bunyi petir sambung-menyambung. Orang-orang yang menyaksikan menjadi sangat ngeri dan teramat ketakutan. Beberapa orang ada yang berkata, “Nah, kita semua disumpahi dan dikutuk Sangyang. Ini akibat memukul gendang dengan ekor jukut pari. Macam-macam aja polahnya, etam segalanya kena juga balanya.”  

Pancaran kilat dan bunyi petir yang tak henti-hentinya itu hampir saja menyambar tubuh Gunam. Ia berlari terus berlari mengikuti jalan yang berkelok-kelok. Akhirnya sampailah pada sebuah pohon haur kuning yang ada di pinggir sungai. Karena letih ia berhenti untuk melepaskan lelah. Sementara itu ia jadi teringat, bahwa di dalam bumbung buluh peroko’anannya (tempat rokok terbuat dari bambu) yang tergantung di pinggangnya terdapat batu penetek leban. Segera diambilnya batu tersebut lalu digosokkan pada purun haur, sehingga muncul api. Karena itu kilat dan petir jadi berhenti mengejar dirinya. Gunam pun terhindar dari bahaya yang mengancam jiwanya itu.

Menurut cerita, jalan bekas Gunam berlari saat dikejar cahaya petir dan kilat di kampung Separi sampai sekarang masih terdapat tumpukan batu panjang berkelok-kelok.  Sedangkan masyarakat negeri yang ada di arena telampak erau benua semuanya menjadi batu karena terkena kutukan Sangyang. Dan tempat itu dinamakan Gua Batu. Di dalam gua batu tersebut terdapat baroh (danau kecil) yang dihuni oleh jukut atau ikan baung berwarna kuning sebesar lengan manusia.  Sedangkan, orang-orang yang telah dikutuk Sangyang menjadi batu bentuknya ada yang tampak sedang menyesui anaknya, berjerang, dan ada juga yang tubuhnya telanjang bulat.

Demikian cerita legenda rakyat kutai yang sekarang ini hampir punah dan sudah banyak dilupakan. Menceritakan asal terjadinya kampung Separi yang berasal dari seekor ikan pari dan teluk Segunam yang berasal dari nama Si Gunam. (M. Hanafie Kahar)

Referensi:
Depdikbud, "Kumpulan Cerita Rakyat Kutai", Pemda Kabupaten Kutai 1979
Posted
Sita Rosita, Pangarakan-Bogor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar