Kamis, 26 Maret 2020

"SEJARAH KAKAWIN BHARATAYUDA 1" By Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparto

Blog Ki Slamet 42: Seni Budaya Nusantara
Jumat, 27 Maret 2020 - 07.23 WIB


Image "Buku "Kakawin Bharatayuda" ( Foto: SP)
         

Ki Slamet 42
Kakawin Bharata-Yuddha yang ditulis oleh Mpu Seddah dan diselesaikan oleh Mpu Panuluh merupakan salah satu karya indah dari zaman Kediri dan disusun atas perintah raja Jayabhaya. Sekalipun tidak disebutkan, bahwa raja Jayabhaya itu dalam kakawin Bhaeata-Yuddha memerintah di Kediri, melainkan bertahta di Daha, dapat diketahui, bahwa Daha itu sama dengan Kediri. Ialah pecahan dari kerajaan Airlangga yang pada akhir bertahtanya telah dibagi menjadi dua, ialah Janggala dan Kaddiri.
Begitu pula, karena nama nama raja Jayabhaya itu dikenal dari beberapa prasasti yang menyebutkan nama raja itu sebagai raja Kediri dan berangka tahun 1135 dan 1146,  nama Jayabhaya dari kakawin Bharata-Yuddha itu dapat diidentifikasikan dengan nama Jayabhaya dari prasasti-prasasti tersebut. karena kakawin Bharata-Yuddha juga berangka tahun dalam bentuk candra tahun Çaka 1079, ialah tahun Masehi 1157 ini tidak berselisih dengan angka tahun 1135 dan 1146, sehingga dengan ini dapat ditentukan, bahwa Jayabhaya dari prasasti-prasasti itu identik dengan Jayabhaya dari kakawin Bharata-Yuddha.
Jaman Kediri yang berkembang antara tahun 1104 dan 1222 itu merupakan zaman keemasan kesusasteraan Jawa kuno dan banyak kitab kakawin telah diciptakan oleh beberapa pujangga, seperti Mpu Dharmaja, Mpu Sêddah dan Mpu Panuluh tersebut di atas, Mpu Monagunna, Mpu Trigunna, Mpu Tanakung dan sebagainya.
Sekalipun dari zaman Kediri dan dari zaman sesudah berkembangnya kerajaan Kediri itu banyak karya para pujangga yang diciptakan dalam bahasa Jawa kuno, hanya kira-kira 4 kakawin yang tetap hidup dan dikenal dalam kesusasteraan Jawa baru, ialah Kakawin Ramayana, kakawin Arjuna-wiwaha, kakawin Bharata-Yuddha dan kakawin Uttara-kanndha, sedangkan sebaliknya 4 kakawin tersebut bersama-sama kakawin lainnya tetap dibaca dan hidup di pulau Bali dan di pulau Lombok hingga sekarang. Apabila kitab-kitab dari kesusasteraan Jawa kuno itu dilanjutkan tradisinya di Bali dan Lombok, disebabkan karena kerajaan dari Jawa itu telah diluaskan ke Bali, sejak zaman Kertanegara dari Singasari dan pada zaman Majapahit, ketikaMahapatih Gajah Mada mempersatukan Indonesia. Janggal ataupun tidak janggal kedengarannya, tapi kenyataannya ialah, bahwa rakyat di Bali dan Lombok itulah yang memelihara kesusasteraan Jawa kuno.
Sebaliknya apabila di kedua pulau itu perhatian terhadap kesusasteraan Jawa kuno tetap dipelihara, di Jawa sendiri pemeliharaan buah-buah kesusasteraan tersebut mulai terlantar. Salah satu sebabnya ialah, karena sejak runtuhnya kerajaan Majapahit yang menjadi pusat kegiatan kesusasteraan Jawakuno, tidak ada lagi pusat kekuasaan politik yang memberi iklim dapat berkembangnya kesusasteraan tersebut. sebab setelah Majapahit runtuh dan kekuasaan politik yang terpecah-pecah dalam tangan beberapa kepala daerah pesisir yang telah memeluk agama Islam, seperti Cirebon, Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Giri, dan sebagainya. Rupa-rupanya pujangga-pujangga yang mencari nafkah hidup itu sesudah runtuhnya Majapahit mengabdikan diri kepada kepala-kepala daerah yang ada di daerah pesisir tersebut dan terus memelihara kesusasteraan Jawa kuno sambil menciptakan karya-karya baru dalam bahasa Jawa baru yang diabdikan untuk meluaskan agama Islam.
Engan ini dapat dikonstruksikan, nahwa pertumbuhan kesusasteraan Jawa kuno menuju ke arah kesusasteraan Jawa baru melalui kesusasteraan Jawa tengahan, garisnya dapat ditarik dari Majapahit menuju Gresik – Giri dan menuju ke Demak yang berkembang antara tahun 1500 – 1555 dan sekitarnya. Karena dari sejarah politik dapat diketahui, bahwa setelah Demak yang dapat direbut sebagian dari bekas kekuasaan politik Majapahit itu runtuh, kekuasaan politik pindah ke Pajang untuk akhirnya pindah ke Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senapati dan Sultan Agung, garis pertumbuhan dan kehidupan kesusasteraan itu juga jalan melalui garis politik tersebut, ialah Demak – Pajang – Mataram. Adanya  garis pertumbuhan kesusasteraan itu dibuktikan oleh kitab Kojajahan yang menurut penyelidikan R.M. Ng. Dr. Poerbacaraka berdasarkan atas gaya bahasanya berasal dari Gresik – Giri dan yang disebut-sebut dalam kitab Nitisruti. Apabila kitab Nitisruti menurut dongeng adalah ciptaan Pangeran Karanggayam dari Pajang, menurut R.M.Ng.Dr. Poerbacaraka berasal dari zaman Mataram awal, ialah pada zaman Panembahan Seda Krapyak ( 1601 – 1613 ), raja Mataram yang kedua. Dengan ini jelaslah, bahwa garis pertumbuhan kesusasteraan Jawa baru itu dapat ditarik dari Gresik – Giri  menuju ke Demak dan Pajang untuk akhirnya sampai di Mataram zaman Islam. Berdasarkan atas kitab Nitisruti itu disusun kitab Nitipraja yang ditulis tahun 1641 dan menurut dongeng kita Nitipraja itu merupakan karya Sultan Agung ( 1613 – 1645 ) sendiri.
Apabila garis pertumbuhan kesusasteraan Jawa kuno dapat diikuti dari sejak zaman kediri, Singhasari dan Majapahit, padahal telah dibuktikan bahwa kesusasteraan Jawa kuno dari zaman Majapahit itu juga melalui Gresik – Giri dan Demak tumbuh  di Pajang dan Mataram sehingga menjadi kesusasteraan Jawa baru, tidak dapat diingkari lagi bahwa ada garis pertumbuhan yang melalui waktu yang lama, ialah dimulai dari abad 11 pada zaman Kediri sampai pada zaman Mataram awal pada abad 17.  Berdasarkan adanya pembuktian, bahwa ada garis pertumbuhan kesusasteraan yang menuju kesusasteraan Jawa baru, gugurlah pendapat Prof. Dr. C.C. Berg yang mengatakan, bahwa kesusasteraan Jawa baru dari zaman Mataram Islam itu tidak ada hubungannya dengan kesusasteraan Jawa kuno dari Majapahit, Singhasari dan Kediri.
Dengan ini dapat diketahui, bahwa 4 buah kitab dari kesusasteraan Jawa kuno, ialah kakawin Ramayana, kakawin Uttarakanda, kakawin Arjuna-wiwaha, dan kakawin Bharata-Yuddha dengan melalui pemeliharaan di puasat-pusat kesusasteraan di Gresik – Giri. Demak dan Pajang sampai Mataram.
Pada zaman Mataram, khususnya pada zaman Kartasura akhir dan dan Surakarta awal pada kira-kira tahun 1755. Jumlah pujangga yang mengenal kesusasteraan Jawa kuno hanya tinggal sedikit dapat dihitung dengan jari. Karena timbul rasa kekhawatiran, bahwa kitab-kitab kakawin dalam bahasa Jawa kuno itu akan hilang, karena tidak terbaca lagi, beberapa orang pujangga, di antaranya Raden Ngabehi Jasadipura mulai menyadur kitab-kitab kakawin tersebut dalam bahasa Jawa baru dengan menggunakan tembang macapat. Karya-karya baru itu disebut jarwa yang berarti makna.
Dalam hal ini R.Ng. Jasadipura telah menyadur kitab kakawin Ramayanna dan kakawin Bharata –Yuddha dari bahasa Jawa kuno ke dalam bahasa Jawa baru yang masing-masing menjadi serat Rama atau Ramayana Jarwadan Serat Bratayuda atau Bratayuda Jarwa, sedangkan kitab kakawin Arjunna – Wiwaha atau Wiwaha Jarwa dan juga terkenal dengan Mintaraga oleh Paku Buwana III ( 1749 – 1788 ) dan satu naskah Serat Arjuna – Wiwaha lainnya yang dikatakan sebagai karya R.Ng. Jasadipura juga. Kakawin yang ke – 4 ialah kakawin Uttara – Kanndda, telah disadur dalam bahasa Jawa baru oleh R. Ng. Sindusastra dengan judul Serat Arjunasasrabau dan juga terkenal dengan nama Serat Lokapala. Dalam hubungan itu perlu diterangkan, bahwa apabila kitab-kitab kakawin itu mempergunakan bahasa Jawa kuno dengan memakai aturan syair India, kitab-kitab yang disebut Jarwa itu mempergunakan bahasa Jawa baru dengan memakai aturan syair Indonesia asli yang disebut macapat.

—KSP 42—
Jumat, 27 Maret 2020 – 07.20 WIB
S u m b e r :
Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparto
Kakawin Bharata–Yuddha. Bhratara – Jakarta 1968
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar