Rabu, 23 Januari 2013

Sambut Maulud dengan "Weh-wehan"


Penulis: Kontributor Kendal, Slamet Priyatin | KOMPAS.com | Kamis, 24 Januari 2013 | 01:12 WIB

Tradisi weh wehan di Kaliwungu Kendal.
KENDAL, KOMPAS.com--Tidak cuma memasang teng-tengan (lampion dari kapal atau bintang lima). Tradisi unik lain untuk menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW di Kaliwungu Kendal Jawa Tengah, adalah Ketuwih atau weh-wehan.

Weh wehan yang berarti saling bertukar jajan yang digelar di depan rumah masing-masing. Tumpukan jajan beraneka macam di depan rumah ini, memang untuk dijual tetapi bukan dibeli menggunakan uang. Tetapi menggunakan jajan atau makanan lainnya. Tradisi saling tukar menukar jajan dan makanan ini sudah ada sejak masa penyebaran agama Islam di Pulau Jawa khususnya di Kaliwungu Kendal. Tradisi yang dikenal dengan tradisi ketuwin atau weh-wehan ini sebagai bentuk rasa syukur dan bangga masyarakat menyambut kelahiran Nabi Muhammad.
 
Makanan khas yang selalu ada pada tradisi ini adalah sumpil dan ketan beraneka warna. Menurut warga, sumpil mengandung banyak arti dan makna, sedangkan ketan beraneka warna simbol rasa syukur dan bangga serta perekat tali silahturahmi.

Salah satu warga Kaliwungu Kendal, Edy Prayitno, mengatakan, ketuwih atau weh wehan di Kaliwungu Kendal dilaksanakan setiap bulan maulud. Makanan khasnya yakni sumpil dan ketan beraneka warna. "Karena perkembangan zaman, sekarang ini tidak hanya Sumpil saja yang disajikan, tapi juga jajanan yang ngetren sekarang," kata Edy, Rabu (23/1).

Warga Kaliwungu lain, Any Fa'iqoh menjelaskan, weh-wehan dilakukan usai Ashar hingga Isya. Ia berharap, weh-wehan tetap terus ada karena sebuah tradisi yang tidak dimiliki oleh daerah lain. "Weh wehan mulai dilakukan oleh para penyebar agama Islam, bertujuan awalnya untuk silaturahim," tambahnya. 

Editor :
Jodhi Yudono

1 komentar:

  1. Weh wehan mulai dilakukan oleh para penyebar agama Islam dengan maksud sebagai meningkatkan ukhuwah Islamiah dan silaturahmi.

    BalasHapus