Sabtu, 27 Februari 2016

KAKAWIN BHARATAYUDHA PUPUH XX / 6 – 9 ( DORNA GUGUR PERLAYA )

Seni Budaya Nusantara
Sabtu, 27 Febuari 2016 - 16:31 WIB
 
Wayang GoleK "Pandita Dorna"


6
Wawang Dhrêshttâyumnârabhasa mamêki sang dwijawara.
Sinantwa ҫri Dharmmâtmaja hila-hilâmöki ri siraa.
Têhêrmangdhik manbunjcangaken i harêp ҫri Kurupati.
6
Kala itu, dengan cepat Drestajumena membinasakan Dorna dengan memenggal kepala. Melihat perlakuan itu, Yudistira anak dewa Darma berkata kepada Drestajumena: “Berdosalah membunuh seorang pendeta!” Tetapi Drestajumena tak menghiraukan hal tersebut, bahkan ia berulang-ulang melempar-lempar kepala Dorna ke atas dengan penuh kegirangan.

7
Rikan pakrak sang ҫri Kurupati lumumpat kakêtêran.
Tumon tênnddas wipreҫwara kapugutan sâmpun apasah.
Tuwin sang yodhêng Pânddawa makin amuk ҫighra gumulung.
Umambah sakwehning balaganna lawan Krawakula.
7
Sang raja Kurupati melompat sambil berteriak keras. Hatinya dicekam rasa ketakutan dan rasa amarah yang teramat sangat demi melihat dan menyaksikan kepala pamannya, sang pendeta Dorna yang sangat dihormatinya itu. Akan tetapi Drestajumena tak menghiraukan kemarahan sang raja Kurupati. Ia malah melempar kepala Dorna ke muka sang raja Kurupati.
Sementara para prajurit Pandawa semakin bersemangat daya tempurnya dengan kematian Dorna. Mereka terus dengan dahsyatnya menyerang secara bergelombang kepada seluruh pasukan Kurawa.

8
Aneka ng mâtyatinnddih atitih atap len gaya kuda.
Karês-rês tingkahning ratha kari têkap sang para ratu.
Krêpâcâryya mwang Karnna ҫakuni lawan ҫalya malayû.
Makering sang Duryyodhana binuru pimrih kinucupan.
8
Banyak sudah para prajurit Kueawa yang menjadi korban, terbunuh di medan pertempuran. Mayat-mayat mereka saling bertumpukan, ada yang tertindih bangkai gajah dan kuda yang juga ikut tewas dalam pertempuran itu. Ya, keadaannya sungguh sangat mengerikan. Pendeta Krepa, Sangkuni, dan raja Salya telah melarikan diri dari medan pertempuran menyertai raja Suyudana yang dikejar-kejar dan diserang oleh pasukan pilih tanding orang-orang Pandawa.

9
Ddatêng tâҫwatthâmâtanya karannaning ҫirnna malayû.
Krêpâjar dang hyang Dronna sira mati sâmpun kapugutan.
Têkapning Dhrêshttadyumna rabhasamanginnddit ҫirahira.
Sinangganyângdhik manggutukakên i sang Korawa pati.
9
Pada saat itu datang Aswatama, putera terkasih sang pendeta Dorna, bertanya kepada mereka, kenapa mereka melarikan diri dan pasukannya mengalami banyak kehancuran? Krepa menjawab pertanyaan Aswatama, bahwa Dorna telah gugur perlaya, mati dipenggal kepalanya oleh Drestajumena di atas keretanya saat jatuh pingsan, dan kepalanya dilemparkan ke arah raja Kurupati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar